Wednesday, November 11, 2020

Telemedicine Implementation in Indonesia - Challenges and Opportunities

My presentation in "The Opportunity of Implementing Telemedicine in Pandemic Era" public lecture organized Vocational College - Universitas Gadjah Mada, Saturday 7 November 2020 at 13.00 - 15.00.

Tuesday, November 3, 2020

A long journey of Telemedicine Indonesia (2015-2020)

Just a documentation of the long journey of my involvement in the Indonesian Telemedicine development program by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. I started to be involved in 2015 in developing the 2016-2020 Indonesian Telemedicine Roadmap. Since then, I have been part of the Technical Team which helps provide input on how the National Telemedicine program is prepared, developed and implemented.





In 2016, I also provided technical input on Regulation of the Minister of Health number 20 of 2019 concerning the Implementation of Telemedicine Services between Health Service Facilities.

Then in 2017 to 2019 I was actively helping to survey the readiness of implementing Telemedicine throughout Indonesia from Aceh to Papua.


In 2017, I also helped the process of moving from using the Telemedicine application provided by the private sector to the development of the Indonesian Telemedicine application (TEMENIN) by the Ministry of Health itself.


Currently, I am also helping the development of Telemedicine Indonesia (TEMENIN) 2.0, apart from helping the development of Telemedicine for Maternal Child Health (KIA) in collaboration between FKKMK UGM, Dr. Sardjito (Ministry of Health) and PemDa Kulonprogo. Previously in 2019 at FKKMK UGM we also conducted research on the use of Temenin in Prov. West Papua. I am also being employed by United Nations Development Programme (UNDP) as a Telemedicine Expert to conduct an Assessment Telemedicine Service in Pandemic Situation in Indonesia.




Following are some documentation of my activities traveling around Indonesia, especially in remote areas in the context of a readiness survey and also giving presentations at technical meetings for Indonesian Telemedicine in various regions.













Apart from that, I am also active in disseminating our research results not only in national seminars but also internationally.

Several seminars and workshops were also attended in order to disseminate understanding of what telemedicine is, what the opportunities are, what challenges are faced and others.

The links for the presentations are on the following YouTube:

https://www.youtube.com/watch?v=W8owRaGdSvQ (Pengenalan Telehealth, eHealth dan mHealth)

https://www.youtube.com/watch?v=Cd3SkgYQcPY (Interview mengenai Telemedicine Indonesia)

https://www.youtube.com/watch?v=QDbtggjMWrk (Implementasi Telemedicine dalam Mendukung Sistem Pencatatan Rekam Medis Era Pandemi Covid-19)

https://www.youtube.com/watch?v=ppoMcD_zvzg (Ethical Challenges of Telemedicine)

https://www.youtube.com/watch?v=BaV6KKvS0CY (Tantangan Infrastruktur Teknologi Informasi di Telemedicine)

https://www.youtube.com/watch?v=nY398q8TqYY (Telemedicine di Indonesia Potensi dan Tantangannya)

https://www.youtube.com/watch?v=qgScSKNPacM (IT & Telemedicine Part 1)

https://www.youtube.com/watch?v=SpmVxZAh4hM (IT & Telemedicine Part 2)
























Public lecture: "The Opportunity of Implementing Telemedicine in Pandemic Era" (in English, 7-8 Nov 2020)

In the Covid-19 pandemic, the need for telemedicine has become vital in health services. To reduce the risk, patients must limit visitations to health facilities. For patients who have to go, the waiting time should be shorter. Health services can still run optimally, so the role of telemedicine is very important. Telemedicine is a technology that allows patients to discuss with doctors privately, without having to meet face to face. The discussion will help patients get information about the suspected diagnosis, treatment or first treatment of diseases and injuries, as well as tips on improving body health.

Based on it, it is necessary to hold a public lecture regarding the opportunities for implementing telemedicine in the pandemic era. This public lecture invited speakers who were experts in the field of telemedicine and health information from Indonesia and from developed countries such as Taiwan and the United States. It'll add insight into the implementation of telemedicine in these countries so that it can be a driving force and an example for the implementation of telemedicine in Indonesia.

Please join us at: 
http://bit.ly/RegistrationWeb1


Wednesday, October 28, 2020

AWS Smart City Week – Indonesia (3-5 November 2020)



Transformasi Indonesia yang pesat dari ekonomi pedesaan ke perkotaan telah menjadi salah satu tolok ukur potensi pertumbuhan besar negara, sekaligus menggarisbawahi beberapa tantangan yang perlu dihadapi. Dengan hampir 70 persen populasi negara diperkirakan akan tinggal di perkotaan pada tahun 2025, inovasi, terutama di sektor publik, sangat penting untuk memastikan peningkatan kualitas hidup yang berkelanjutan.

Teknologi cloud akan menjadi infrastruktur utama bagi Smart City yang berkelanjutan. Bergabunglah dengan kami dalam AWS Smart City Week – Indonesia untuk mendengar dari para ahli di bidangnya untuk berbagi contoh nyata tentang bagaimana inovasi teknologi seperti cloud computing dapat mendukung visi Anda dan memberikan masa depan yang lebih baik untuk semua. 

Sebelum memutuskan untuk mengambil langkah selanjutnya, melalui survei di setiap akhir sesi, Anda memiliki kesempatan untuk menyatakan minat Anda melakukan Proof-of-Concept (POC) dari AWS, pelatihan yang disesuaikan untuk tim Anda, atau konsultasi 1:1 dengan para ahli kami.

Amazon Web Services (AWS) terpilih sebagai pemimpin pasar dalam platform aplikasi di dunia untuk smart cities menurut: IDC MarketScape: Worldwide IoT Applications Platforms for Smart Cities 2019–2020 Vendor Assessment (doc # US43580918, January 2020). Laporan tersebut menilai lanskap pasar pada platform aplikasi Internet of Things (IoT) untuk memungkinkan smart cities.



Pelajari bagaimana Anda dapat mendukung cakupan pelayanan kesehatan warga dan pasien Anda dengan aman, sekaligus berpotensi mengurangi beban penyedia layanan kesehatan.

Teknologi berbasis cloud seperti telemedicine memungkinkan konsultasi dan perawatan pasien di seluruh negeri, terutama di komunitas dan daerah terpencil yang sulit dijangkau.

Webinar ini akan diselenggarakan dalam Bahasa Inggris.


Link pendaftaran ada di sini:
https://pages.awscloud.com/APAC-public-OE-id-smart-city-week-2020-reg.html?sc_channel=em&sc_campaign=%7B%7Bprogram.name%7D%7D&sc_medium=em_%7B%7Bcampaign.id%7D%7D&sc_content=REG_webinar_wwps&sc_detail=idsmartcityweek&sc_geo=apac&sc_country=id&sc_outcome=reg&sc_publisher=aws&trk=em_apac_inv_sintesa_qr-all




Thursday, July 16, 2020

Peran Telemedicine Dalam Era Baru Pandemi Covid 19 Guna Mendukung Standar Profesi Perekam Medis Berdasarkan Kepmenkes 312 Tahun 2020


Hallo Sahabat Rekam Medis Semua

Kami dari Himpunan Mahasiswa Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta Proudly Present : SEMNAS ONLINE DAN DONASI COVID-19
Dengan Tema " Peran Telemedicine Dalam Era Baru Pandemi Covid 19 Guna Mendukung Standar Profesi Perekam Medis Berdasarkan Kepmenkes 312 Tahun 2020 "🎉🎉

Narasumber :
📢 Surahyo Sumarsono, B.Eng., M.Eng.SC ( Konsultan Telemedicine )
“ Implementasi Telemedicine Dalam Mendukung Sistem Pencatatan Rekam Medis Era Pandemi Covid-19 ”
📢 Tedy Hidayat, A.Md PERKES, S.ST RMIK., MMRS ( Ketua DPP PORMIKI )
“ Standar Profesi Perekam Medis Berdasarkan Kepmenkes 312 Tahun 2020 ”
📢 Kori Puspita Ningsih, A.Md., S.K.M., M.KM ( SEKPRODI D-3 RMIK Unjani YK )
“ Revitalisasi Manajemen Resiko Pengelolaan Rekam Medis Era Covid-19 ”
Moderator :
🎤 Laili Rahmatul Ilmi, A.Md., S.K.M., M.P.H ( KAPRODI D-3 RMIK Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta )

SAVE THE DATE!!
📆 Minggu, 02 Agustus 2020
⌚ 12.30 WIB - Selesai
🎥 Live Via ZOOM Meeting, YouTube ( Himarmikaunjani yk ), Instagram ( @Himarmikayaniyk )

Fasilitas :
- E-Certificate 2 SKP PORMIKI
- Soft File Materi yang bermanfaat

HTM :
Mahasiswa, Alumni, Umum : Rp 100.000 ( Sudah Termasuk Donasi Covid-19 )
Diskon 50% untuk Mahasiswa RMIK Seluruh Indonesia
Diskon 25% untuk Alumni UNJANI

Cara pendaftaran :
1. Transfer terlebih dahulu ke ( BRI ) 1751-01-000706-531 a/n HIMARMIKA UNJANI YOGYAKARTA
2. Foto bukti pembayaran
3. Mengisi Link pendaftaran http://bit.ly/formulirseminaronline2020

Ayoooo daftar sekarang jugaaa🥰🥰🥳

More Info hubungi CP :
- Yuni   ( Mahasiswa )        : 081236646033
- Lastri ( Alumni Unjani )    : 087854652715
- Cyntia ( Umum dan Profesi ) : 0823149


Tuesday, May 16, 2017

"The most secure network is unconnected network"..... sebuah kalimat yang sudah berulang kali saya ucapkan setiap mengajar di kelas atau mengisi seminar mengenai Networking & Security. Saya tulis lagi berkaitan dengan isu Ransoomware yang membawa kehebohan secara global beberapa hari ini. Saya mencoba melihat dari sisi yang berbeda.

Jadi secara umum, tidak pernah ada sebuah Sistem Informasi yang benar-benar aman. Cepat atau lambat, pasti akan ditemukan kelemahannya dan dimanfaatkan oleh orang/kelompok tertentu untuk hal-hal yang tidak benar. Artinya, kita lah sebagai pengguna dan pengelola sistem harus terus menerus selalu waspada dan memperbaiki berbagai kelemahan yang ada tersebut.

Sejak tahun 2000 hingga 2010 saya cukup serius mendalami materi Networking & Security, bidang yang berbeda dengan Programming, Database dan lain-lain. Sekaligus untuk menjelaskan ke teman-teman yang awam, bahwa di bidang IT itu juga sangat luas, seperti kalau dokter ada spesialis anak, kulit, penyakit dalam dan lain-lain. Jadi tidak ada 1 orang IT yang bisa menguasai semua. Kembali ke bidang Networking & Security tersebut, perkembangan Teknologi sangat pesat sehingga membuat kita harus memfokuskan pada satu sub-bidang. Dulu sempat senang ngoprek router/switch, firewall, IDS dan lain-lain. Tapi dalam perkembangannya, saya mulai beralih ke arah sisi Human/People nya. Seiring bahwa mulai 2011 saya juga menekuni Health Informatics yang membuat saya belajar banyak mengenai Manusia dan interaksinya.

Beberapa waktu lalu saya diminta mengisi seminar tentang Cyber Crime, dan di salah satu slide saya memperlihatkan tentang unit Cyber Crime (dari salah satu file seri TV) yang dipimpin oleh Avery Ryan. Ia adalah seorang doktor pengamat psikologi tingkah laku manusia yang bekerja di divisi Kejahatan Kriminal Siber FBI dan ketua program "hack-for-good" (meretas untuk kebaikan). Saya coba mengingatkan, bahwa secanggih apapun sistem yang kita miliki, tapi kalau tidak dilengkapi dengan pemahaman yang baik dari sisi manusianya, maka akan percuma saja. Bisa dipahami kenapa FBI menggunakan Avery Ryan, karena dialah yang akan memandu akan seperti apa para kriminal akan mengganggu atau menyerang sasaran mereka, dari sisi Manusia-nya. Kemudian anggota tim lain yang ahli IT akan membantunya. 

Banyak ancaman bahaya keamanan di dunia Cyber yang mengarah kepada kita (manusia) sebagai penggunanya. Dengan mengamati perilaku (profiling), maka dengan mudah kita bisa melakukan Social Engineering Attack atau sejenisnya. Dengan cara seperti ini, kita bisa memanfaatkan tool yang sudah ada di Internet, tidak harus membuat sendiri, kecuali kita memang programmer yang handal. 

Betul bahwa WannaCry(pt) adalah Ransoomware yang handal, tapi jika kita selalu waspada dan berhati-hati, disiplin dalam menggunakan Internet, maka hal yang buruk bisa dihindari. Kecerobohan, keingintahuan, ketidakpedulian, rasa amarah/benci dan sejenisnya adalah hal-hal yang sering membawa kita pada masalah di dunia maya. Hal teknis seperti kita tidak rutin mengupdate OS atau software anti virus, mendonlod/klik sembarangan, menggunakan public internet yg tidak aman, menggunakan/meminjam USB flashdisk sembarangan dan lain-lain. Atau hal-hal non-teknis seperti menyebarkan HOAX, menyerang/menyebarkan kebencian dan sejenisnya pun sama bahayanya dengan Cyber Crime yang lain. 

Sebagai penutup, selalu berhati-hati dan waspada dalam menggunakan Teknologi Informasi, karena mereka mempunyai 2 sisi baik yang menguntungkan dan merugikan. Update teknologi, minta bantuan tim IT yang handal, sering melakukan sosialisasi juga harus rutin dilakukan. Terakhir, kita sebagai manusia juga harus berhati-hati dalam bertindak. Ingat kelemahan hati kita sering dimanfaatkan oleh mereka yang punya rencana tidak baik. Kita bisa menjadi korban, tapi kita juga sangat bisa menjadi pelaku Kejahatan Dunia Maya......!! 

Semoga tulisan pendek ini bisa memberi sedikit pencerahan bagi teman-teman. Selamat beraktivitas, semoga lancar dan sukses.....salam Internet Sehat dan Positif 

Yogyakarta, 16 Mei 2017 
Surahyo

Wednesday, June 15, 2016

Memaknai Sebuah Proses Pembelajaraan

Dear all,

Sekedar sharing terhadap apa yang saya pikirkan mengenai sebuah proses pembelajaran di dalam kehidupan sehari-hari, baik secara formal di sekolah ataupun informal di keluarga dan masyarakat. Apalagi pada saat ini sarana kita untuk belajar hal-hal baru menjadi semakin mudah dengan adanya akses berbagai informasi di Internet maupun media-media lainnya. Sangat berbeda dibanding 10-20 tahun lalu, dimana kita harus bertemu langsung dengan narasumbernya atau harus mendapatkan buku-buku yang sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Saya ingat sebuah filosofi lama (maaf belum ketemu sumber aslinya dari mana) mengenai belajar adalah seperti mengisi air di gelas. Ada beberapa syarat yang harus kita lakukan agar bisa mengisi air dalam gelas, yaitu terbuka, kosong dan lebih rendah. Saya coba ulas satu-persatu syarat tersebut di bawah ini, dari persepsi dan pemahaman saya pribadi.

Ketika kita ingin mempelajari sesuatu yang baru, pasti hal pertama yang harus dilakukan adalah membuka pikiran dan hati kita. Seberapa hebat dan tingginya tingkat pendidikan kita, tidak akan pernah bisa menerima hal-hal baru jika kita menutup diri dan menganggap hal tersebut tidak bermanfaat bagi kita. Ternyata, bukan hal yang mudah untuk bisa membuka pikiran dan hati kita apalagi kita sudah mendapatkan gelar pendidikan yang tinggi dan posisi jabatan yang lumayan. Belum lagi jika emosi sudah menguasai pikiran/hati kita, pasti akan selalu menganggap hal-hal lain yang berbeda dengan kita sebagai sesuatu yang salah dan tidak perlu dipelajari dan dipahami. Apakah itu di lingkungan pembelajaran formal misal di forum-forum ilmiah di suatu institusi pendidikan, atau debat tentang apapun (politik, sosial, kesehatan dan lain-lain), ataupun di lingkungan informal seperti diskusi ringan di rumah ataupun masyarakat. Baik melalui pertemuan secara fisik atau melalui media eletronik seperti Social Media, email, chat dan sejenisnya. Marilah kita merenung sejenak dan membuka pikiran dan hati kita agar bisa mempelajari dan memahami apa yang sedang terjadi. Seperti membuka tutup gelas sehingga pengisian air bisa dilakukan. 

Hal kedua adalah mengosongkan pikiran dan hati, walau bukan dalam artian sebenarnya. Lebih kepada bagaimana kita menata ulang lagi apa-apa yang sudah kita pahami, agar ada tempat untuk hal-hal baru yang sedang kita pelajari. Tidak seperti gelas yang penuh terisi air, sehingga tidak bisa diisi lagi atau akan tumpah, insya Allah kita dikarunia otak/hati yang sangat luas dan tidak akan pernah bisa penuh ketika kita mampu mengaturnya. Biarkan seluruh indera kita menerima hal-hal baru tersebut, yang nantinya akan proses lagi perlahan-lahan dalam rangka memahami, mungkin akan terjadi proses pertentangan, yang nantinya akan mengendap menjadi suatu pengetahuan baru. Jika hal-hal tersebut tidak sesuai dengan kita, dengan perlahan-lahan kita lupakan tanpa harus disimpan lebih dalam lagi. 

Bagian terakhir adalah kerelaaan kita menempatkan diri lebih rendah dari sumber informasi atau pengetahuan baru yang akan kita pelajari. Mengisi air ke dalam gelas secara normal, sesuai hukum gravitasi, harus menempatkan gelas lebih rendah agar air bisa mengalir. Beda cerita kalau kita menggunakan pompa atau alat bantu sejenisnya ya hehe. Sumber informasi/pengetahuan tersebut mungkin bisa berasal dari anak kita, dari murid/mahasiswa, atau bawahan di kantor, masyarakat awam dan sebagainya. Ternyata banyak hal baik yang bisa kita pelajari dan pahami di luar sana, walau dari sumber yang kebetulan posisinya lebih rendah (usia, pengalaman, kedudukan dan lain-lain). Untuk itu, kita harus bisa merendahkan hati untuk bisa menampung aliran informasi/pengetahuan baru masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Hal ini pun juga tidak mudah dilakukan, apalagi kita sudah merasa sebagai nara sumber yang sudah dipercaya di mana-mana. Kita harus ikhlas memahami bahwa mungkin saja pemahaman kita saat ini tidak tepat lagi dan mampu bisa menerima masukan-masukan tersebut. 

Semoga sebuah tulisan sederhana ini bisa menyadarkan kita semua, terutama untuk saya pribadi, dalam memaknai sebuah proses pembelajaran. Dalam kondisi saat ini yang begitu banyaknya informasi bertebaran di sana-sini dari berbagai sumber yang tidak jelas keabsahannya, kita bisa menerapkan 3 hal tersebut di atas. Menjadi kewajiban bagi kita juga, jika sudah memahami proses tersebut untuk menyebarkan di lingkungan sekitar. Semoga kita semua bisa menjadi makhluk pembelajar yang baik, santun, beretika dan bermanfaat bagi semuanya, aamin YRA. 

Salam hangat dari Jogja, 11 Mei 2016 
Surahyo Sumarsono

Wednesday, May 25, 2016

Baca, pahami, renungkan

Dear all,

Selamat pagi/siang/sore/malam, semoga teman-teman dalam keadaan sehat selalu. Sudah lama sekali saya tidak menulis Notes disini, kali ini mencoba share apa yang sedang saya renungkan. Hal tersebut berkaitan dengan banyaknya informasi (atau malah data) yang bermunculan di Internet, baik melalui FB, Instagram, Path, Whatsapp, Line, SMS, email dan berbagai bentuk komunikasi elektronik dan sosial media. Sebelum membaca lebih jauh, saya ingin berbagi dulu 2 (dua) gambar berikut ini. Yang pertama mengenai gunung es attitude, dan yang kedua mengenai piramida informasi.
Berdasarkan kedua gambar tadi, mari kita coba cermati bersama. Dari piramida informasi, terlihat bahwa pertama kali kita akan mendapatkan data-data yang nantinya setelah terkumpul akan memberi arti terhadap sesuatu, yang akan kita sebut sebagai informasi. Informasi ini bisa saja benar, salah, berguna, tidak berguna dan seterusnya. Dari berbagai informasi yang terkumpul dari banyak sumber, mulailah kita mendapatkan pemahaman (knowledge), yang kadang harus melalui diskusi, pertentangan, pengujian dan seterusnya. Artinya, tidak mudah bagi kita langsung memahami sesuatu jika hanya mendapatkan informasi yang sedikit dan belum tentu kebenarannya. Pemahaman tersebut pasti membutuhkan waktu dan usaha tersendiri, yang di era serba instan seperti ini kadang kita tidak sabar untuk melakukannya. Apalagi jika emosi kita terpancing, akan sangat mudah bagi kita untuk memaksa memahami dan berkeinginan untuk menyebarkannya. Contoh sederhana adalah jika ada informasi tentang sesuatu/seseorang yang sifatnya di luar kebiasaan, baik dari sisi positif maupun negatif. Terbukti bahwa kadang kita terpancing untuk sharing informasi yang ternyata tidak terbukti kebenarannya (HOAX). Hal ini sudah lama terjadi, tapi semakin menjadi terutama sejak ada PilPres 2014 lalu, dan berlanjut sampai sekarang. Ini berlaku juga dengan hal-hal terbaru akhir-akhir ini seperti serangan teroris di Jakarta, tangan robot, perakit televisi, keracunan kopi dan lain-lain. 

Jika kita mau sedikit berusaha, dengan melihat sumber informasi, membandingkan dengan sumber lain, berusaha mempertanyakan kebenarannya, sebenarnya kita sedang berusaha naik satu tingkat lebih atas untuk mendapatkan pemahaman (knowledge). Internet banyak memberi kemudahan dengan adanya search engine (misal Google), atau bahkan diskusi dengan orang yang lebih ahli atau sumber-sumber lain, untuk bisa memastikan dan mendapatkan informasi yang benar dan akurat. 

Dengan berjalannya waktu, semakin kita meresapi pemahaman-pemahaman yang kita miliki, maka kita akan naik ke tingkat lebih tinggi lagi yaitu kebijaksanaan (wisdom). Di level ini, tidak harus di bidang yang sama, maka intuisi (gerak hati/batin) akan membantu merasakan apakah informasi yang sedang kita dapatkan ini benar atau tidak, penting atau tidak untuk kita bagikan ulang (share). Di gambar kedua juga bisa dilihat, bahwa walaupun kita punya knowledge/skill yang bagus pun, tetap harus memiliki attitude yang baik pula. 

Baik wisdom maupun attitude adalah hal yang kita miliki tidak hanya di otak (yang menggunakan logika), tapi juga sudah di level hati/perasaan. Makanya dalam bahasa Indonesia (atau bahasa lain), dibedakan antar pikiran (di otak/brain) dan perasaan (di hati/heart) walau secara fisik sebenarnya keduanya di otak/brain juga. Secara umum bagi kita yang masih normal, hati/perasaan akan memberi tanda/sign bahwa informasi yang kita terima sepertinya tidak benar. Disitulah sebenarnya wisdom (yang didapat dari kumpulan pemahaman2 di bidang lain) dan attitude kita berperan sebagai filter/penyaring karena saat ini begitu cepatnya dan begitu banyaknya informasi berdatangan. Wisdom dan attitude ini juga biasanya kita dapatkan dari pendidikan agama dan etika/norma baik di rumah, di sekolah maupun di lingkungan kita sehari-hari. 

Saya kira, ada 3 hal yang perlu kita lakukan sebelum kita membagi informasi (apalagi di Internet). Pertama, pastikan dahulu apakah informasi itu benar atau tidak. Yang kedua, jika pun benar, apakah bermanfaat atau tidak bagi orang lain (dan kita tentunya). Dan yang terakhir, kalaupun bermanfaat, apakah perlu kita bagikan sekarang atau nanti. Ada banyak hal yang bisa lakukan sebelum informasi itu terbagi/terkirim, walaupun tantangannya sangat berat karena hanya dengan 1 klik saja informasi tersebut langsung terkirim. Jika ada waktu, di bawah ada beberapa Notes sebelumnya yang berkaitan dengan topik ini. Sekali lagi, ini hanya sebuah tulisan pendek dengan 2 gambar. Semoga teman-teman ada waktu untuk membaca, memahami dan merenungkan maknanya. Semoga juga bermanfaat bagi teman-teman. 

Salam hangat. Surahyo Sumarsono

Wednesday, February 25, 2015

Definisi Big Data dan mengapa dibutuhkan di bidang Kesehatan, bagian 1

Dear teman-teman tercinta,

Seiring dengan akan diselenggarakannya Seminar/Talkshow dan Workshop dengan judul PENDEKATAN BIG DATA ANALYTICS DI BIDANG KESEHATAN: MANFAAT, PELUANG DAN TANTANGAN DI ERA POST MDG’s, maka kami akan bagikan beberapa catatan (Notes) pendek sebagai pengantar acara tersebut. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para calon peserta. Ketika kita mendengar terminology Big Data sebenarnya sampai saat ini belum ada definisi yang konsisten.Tapi bisa kita sebut sebagai paradigma baru, suatu cara pandang yang berbeda terhadap data dan cara menganalisanya, dan kumpulan dari teknologi yang didesain untuk memahami value dari sebuah data, yang tidak dimungkinkan jika menggunakan teknik sebelumnya, mengacu kepada volume (jumlah), speed (kecepatan) pada saat data didapatkan, dan diversity (keberagaramannya).

Terminologi ini mulai popular pada tahun 1990an, mengacu pada pertumbuhan jumlah data yang sangat pesat saat itu. Doug Laney memperkaya konsep dari terminology ini dengan kata kunci “3 V” yang terdiri dari volume, velocity dan variety. Akhir-akhir ini ada tambahan kata kunci yang mulai digunakan juga yaitu veracity. Mari kita lihat penjelasan dari masing-masing kata kunci tersebut.

Volume mengacu kepada pertumbuhan yang eksponensial dari jumlah data yang dihasilkan dan disimpan. Diperkirakan bahwa produksi data akan bertambah 44 kali lebih besar di tahun 2020 dibanding tahun 2009. Teknik Big Data akan membantu mendapatkan knowledge dari data yang sangat besar itu. 

Velocity mewakili penambahan jumlah frekuensi dari data yang dihasilkan. Pertumbuhan sensor yang terintegrasi di semua tipe device, meningkatnya jumlah penggunaan mobile phone secara global di seluruh dunia memberikan kontribusi yang signifikan terhadap jumlah data yang dihasilkan. Proyek-proyek Big Data digunakan untuk memanfaatkan data tersebut dengan cepat sehingga pengambilan keputusan bisa diambil dengan tepat. 

Variety menjelaskan tentang perbedaan format dari data yang bisa digunakan, baik mulai dari gambar, teks, video, suara dan lain sebagainya. Big Data akan mencoba memanfaatkan data-data tersebut walaupun tidak mempunya format yang standar atau tidak terstruktur. 

Veracity mengacu kepada kebenaran atau akurasi yang terdapat pada beberapa tipe data. Adalah hal yang mustahil untuk menghilangkan factor ketidakpastian pada suatu data, misal data cuaca, atau keputusan pada saat berbelanja dan sejenisnya. Untuk itu sangat penting melibatkan factor-faktor tersebut dalam perencanaan proyek-proyek Big Data. Organisasi-organisasi yang relatif pertama kali menerapkan Big Data adalah perusahaan-perusahaan IT seperti Google, yang telah mampu membangun infrastruktur pendukung bagi pengelolaan data yang mempunyai skalabilitas tinggi. 

Walaupun organisasi kesehatan sangat berhati-hati dalam penerapan Big Data tersebut, tapi akhir-akhir ini iklimnya mulai berubah. Pemanfaatan Rekam Medis Elektronik sangat berkembang akhir-akhir ini, yang diikuti dengan pertumbuhan data yang sangat besar, baik secara kuantitas (misal hasil lab), kualitatif (misal catatan-catatan), atau transaksional (misal pemesanan obat). Lebih dari itu, proyek-proyek genomics yang makin banyak, perubahan focus ke pelayanan pengobatan yang personal akan memaksa organisasi-organisasi kesehatan beralih ke pengelolaan data yang memanfaatkan teknik Big Data. 

Masih banyak lagi yang akan dibahas dalam pemanfaatan Big Data di bidang Kesehatan, baik dari manfaat yang didapat, peluang, dan juga tantangan yang akan dihadapi terutama di Indonesia sebagai negara berkembang dengan segala keunikannya. Pembahasan tersebut akan dilanjutkan pada Notes-notes berikutnya. 

Salam Big Data……! 
SS 
Ketua Pokja Informatika Medis SIMKES, Fakultas Kedokteran UGM

Friday, February 4, 2011

Peran TI dalam pemberitaan: kecepatan vs akurasi


Dear all,

Sudah lama tidak menulis Blog, tiba-tiba jadi ingin menulis opini mengenai sebuah berita yang berkembang di dunia maya (Internet). Sebelumnya, saya hanya mengikuti berita Mesir, lalu mulai terusik dengan adanya berita seorang dokter Indonesia yang tewas dalam demonstrasi di Kairo. Berita tersebut muncul di Facebook dan saya mencoba mengikuti di beberapa situs media online (Detik, vivanews, Tempo Interaktif dan lain-lain). Reaksi pertama adalah merasa turut berduka cita dan kagum dengan pengorbanan mbak Imanda Amalia, yang kebetulan dari UGM juga. Tapi dengan berjalannya waktu, saya merasa ada kejanggalan dalam berita-berita tersebut karena isinya makin simpang siur sehingga diragukan kebenarannya.

Berawal dari pengakuan seseorang yang mendapat pesan dari BBM yang berisi seperti ini (dikutip dari beberapa situs pemberitaan):

"Doakan Manda,Kami terjebak dalam baku tembak, Ambulance tertembak, Terkena lemparan batu, Blom bisa dievakuasi karena massa makin memanas."

kemudian di upload di Facebook pada Group Science of Universe oleh seorang admin. Saat ini berita sudah di remove dan mendapat komentar dari banyak orang. Maka, setelah pesan itu beredar, kabar bahwa ia tewas di tengah baku tembak di Kairo tersebut menjalar cepat di Facebook, Twitter, milis, dan portal-portal berita di Indonesia.

Sekedar berapa link yang bisa rekan-rekan baca mengenai berita tersebut, disusun berdasarkan kronologis waktu update terbaru:

Facebook, group Science of Universe:
http://www.facebook.com/Science.Of.Universe
dan beberapa update status rekana-rekan di Facebook yang mengucapkan duka cita.

Detik.com: metoda searching kata kunci "Imanda"
1. Anis Matta: Pemerintah Tak Wajib Usut Identitas Imanda Amalia (Jumat, 04/02/2011 11:16 WIB)
http://us.detiknews.com/read/2011/02/04/111641/1559982/10/anis-matta-pemerintah-tak-wajib-usut-identitas-imanda-amalia
2. Kronologi Tewasnya 'Manda' dan Simpang Siurnya Berita (Jumat, 04/02/2011 10:53 WIB)
http://us.detiknews.com/read/2011/02/04/105250/1559948/10/kronologi-tewasnya--manda--dan-simpang-siurnya-berita
3. Tak Ada Nama Imanda Amalia di UNRWA di Semua Negara Timur Tengah (Jumat, 04/02/2011 10:25 WIB)
http://us.detiknews.com/read/2011/02/04/102551/1559905/10/tak-ada-nama-imanda-amalia-di-unrwa-di-semua-negara-timur-tengah
dan seterusnya, total ada 20 link.

vivanews, cuplikan berita di AnTeve:
Tidak Ada WNI yang Tewas di Lapangan Tahrir (Jum'at, 4 Februari 2011, 10:53 WIB)
http://us.video.vivanews.com/read/12895-tidak-ada-wni-yang-tewas-di-lapangan-tahrir_1

Tempo Interaktif
1. Imanda Amalia Bukan Warga Indonesia atau Australia (Jum'at, 04 Februari 2011 | 14:00 WIB)
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/02/04/brk,20110204-311065,id.html
2. UGM Sebut Imanda Sehat dan Ada di Yogyakarta (Jum'at, 04 Februari 2011 | 09:23 WIB)
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/02/04/brk,20110204-310975,id.html
3. Teka-teki Perginya Sang Perawat Pengungsi (Jum'at, 04 Februari 2011 | 03:37 WIB)
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/02/04/brk,20110204-311065,id.html
4. Kabar Kematian Imanda di Mesir Ditarik dari Facebook (Kamis, 03 Februari 2011 | 13:44 WIB)
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/02/03/brk,20110203-310844,id.html
dan beberapa berita lain yang rekan-rekan bisa cari melalui Google.

Belajar dari pengalaman masa lalu dimana peran TI sudah semakin besar dalam proses penyebaran berita, keuntungan yang pertama bisa kita peroleh adalah kecepatan penyebarannya. Di era sebelum dimanfaatkannya TI, berita hanya bisa kita dapat setelah sekian saat peristiwa terjadi dan dipublikasikan melalui radio, TV ataupun surat kabar. Sekarang dengan pemanfaatan TI seperti SMS, email, jejaring sosial dan lain-lain, suatu berita akan cepat sekali menyebar sehingga kita bisa memantau-nya secara interaktif. Belum lagi, sumber berita bisa berasal dari mana saja karena era sekarang sudah menggunakan istilah Citizen Journalism.

Tapi dalam berjalannya waktu, mulailah timbul masalah baru yaitu tentang akurasi berita. Sebelum kasus Imanda ini, yang sekarang diragukan kebenarannya, penulis sendiri mengalami kebingungan karena beberapa kerancuan dalam pemberitaan seperti waktu meletusnya gunung Merapi di Jogja. Waktu itu sering beredar berita yang tidak akurat, mulai mengenai Awan Panas yg salah diberitakan oleh satu stasiun TV, SMS menyesatkan oleh orang2 tidak bertanggung jawab dan lain-lain. Sebenarnya jika kita cermati, tidak harus berupa berita besar seperti ini, penipuan-penipuan melalui SMS dan email sudah merupakan contoh baik dalam penyalahgunakan TI dalam pemberitaan. Misal berita duka anggota keluarga lalu diminta uang, minta pulsa, dapat hadiah dan lain-lain.

Saya sebagai pengamat/praktisi TI hanya ingin sekedar membagi pengalaman bahwa suatu konten informasi di TI sangat rentan untuk dimanipulasi tanpa kita sempat mengkonfirmasinya. Sumber yang tidak jelas pun, asal ditulis dengan meyakinkan akan bisa mengarahkan suatu niat/tujuan dari pembuat berita bagi para pembaca/audiens-nya. Ini semua karena pemanfaat berita itu adalah manusia yang akan membuat suatu persepsi sendiri terhadap konten informasi tersebut. Selain itu, kita pun karena ingin segera menyebarkan informasi tersebut, biasanya tanpa melakukan konfirmasi juga segera meneruskan berita tersebut ke jaringan kita.

Sekedar referensi, mungkin rekan-rekan bisa membaca beberapa tulisan saya terdahulu mengenai hal ini:
1. Penipuan melalui Yahoo Messenger (atau Facebook dan lain-lain)
http://surahyo.blogspot.com/2010/06/penipuan-melalui-yahoo-messenger-atau.html#links
2. Ancaman Keamanan pada Digital Lifestyle
http://surahyo.blogspot.com/2009/03/ancaman-keamanan-pada-digital-lifestyle.html#links
3. Once we release a content on the Internet, then it will not be removable forever
http://surahyo.blogspot.com/2010/08/once-we-release-content-on-internet.html#links
4. Perlukah etika dalam pemanfaatan media elektronik (berbasis TI)?
http://surahyo.blogspot.com/2010/01/dear-all-sekedar-tulisan-ringan-mungkin.html#links
5. Hoax, sepele tapi mengganggu
http://surahyo.blogspot.com/2008/10/hoax-sepele-tapi-mengganggu.html#links
dan lain-lain.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil disini adalah mengenai pentingnya pemanfaatan TI di berbagai bidang termasuk Pemberitaan, tapi harus bisa digunakan dengan tepat (proper) agar bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Konfirmasi mengenai akurasi konten informasi adalah mutlak, dan sumber berita harus bisa dilacak. Beruntunglah banyak rekan-rekan yang sekarang mendalami IT Forensic yang bisa dijadikan sumber untuk melacak darimana isi berita itu berasal. Saya menunggu rekan-rekan yang berkecimpung di bidang tersebut untuk bisa menyumbangan keahliannya dalam diskusi topik kali ini.
Salam, surahyo.

Friday, December 17, 2010

Seberapa besar ketergantungan anda pada Teknologi Informasi



Dear all,

Seperti kita ketahui, saat ini begitu banyak peralatan Teknologi Informasi yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari peralatan telekomunikasi bergerak, PC/notebook maupun digital kamera. Perkembangan teknologi jaringan juga memungkinkan kita selalu bisa terkoneksi baik melalui jaringan telephone dan jaringan data. Hampir dikatakan, interaksi kita antar manusia sudah berubah dari pertemuan fisik menjadi pertemuan virtual/maya. Dalam artikel ini, saya akan batasi tulisan ini pada topik komunikasi menggunakan telepon dan akses dan pengolahan data/informasi menggunakan PC/notebook melalui Internet.

Bagian 1. Komunikasi menggunakan telpon dan SMS/email/chatting

Sejalan dengan kebiasaan kita dalam memakai peralatan-peralatan tersebut, terjadi perubahan dimana kita menjadi semakin tergantung padanya. Pada saat kita ingin berkomunikasi dengan orang lain, cukup dengan menekan tombol maka terjadilah koneksi antar kita dengan lawan bicara. Tidak diperlukan hapalan terhadap nomer yang dituju karena semua sudah tersimpan dalam address-book. Tanpa harus melihat muka (ekspresi) dan bahasa tubuh lawan bicara, kita berusaha melakukan interaksi dua-arah mengandalkan nada bicara dan konten percakapan kita. Jika hal itu sulit dilakukan (misal karena kesibukan, sungkan, takut dll) maka komunikasi kita akan digantikan oleh text baik melalui SMS/email/chatting.

Adakah yang merasa bahwa komunikasi digital seperti itu bagaimanapun berbeda dengan komunikasi tradisional kita selama ini. Mulai dari usaha kita untuk mencari/mendapatkan lawan bicara sudah mengalami perubahan. Dahulu pada saat kita akan bertemu dan melakukan komunikasi, pasti kita akan menyiapkan diri untuk mengerti dan memahami siapa lawan bicara nanti. Pertemuan dengan anggota keluarga, teman, rekan kerja, atasan/bawahan, orang yang pertama kenal dan lain-lain akan membutuhkan persiapan yang berbeda. Kadang-kadang kita harus menyiapkan seksama topik pembicaraan, gaya bicara & bahasa tubuh sesuai dengan kebutuhan bahkan pakaian/kostum yg kita kenakan. Boleh dibilang, seluruh anggota tubuh kita akan diajak bekerja sama dalam proses komunikasi nanti.

Pada saat kita akan berkomunikasi secara digital baik melalui telpon atau SMS/email/chatting, terjadi perubahan mendasar dalam diri kita. Proses pencarian lawan bicara cukup diwakili dengan menekan tombol di address-book telpon atau email. Tidak butuh suatu usaha yang rumit untuk berbicara/menulis suatu topik baik kepada atasan, rekan kerja, teman, anggota keluarga dan lain-lain. Dengan 1 tombol, anda dapat menghubungi siapapun di dalam ratusan atau ribuan Contact di telpon/email/chatting anda. Setelah terjadi koneksi, tidak butuh persiapan mental apakah usaha kita akan ditolak atau diterima. Berbeda rasanya ketika kita sudah susah payah mencari suatu orang untuk ditemui, begitu ketemu malah ditolak untuk berkomunikasi. Bahkan ketika kita mengirim SMS/email/chatting, kadang tanpa berpikir panjang kita langsung mengirimkan pesan ketika tanpa mempertimbangkan reaksi yang akan timbul dari orang yang kita hubungi tersebut.

Terjadi kecenderungan percakapan suara di telpon maupun teks di SMS/email/chatting menjadi lebih “ringan” nilainya dibanding percakapan tradisional. Dengan beranggapan kita tidak berhadapan langsung, efek atau reaksi yang akan timbul sering kita abaikan. Etika dan sopan santun kadang akan diabaikan, termasuk pemahaman yang kita dapat bisa berbeda karena keterbatasan indera kita dalam menangkap jawaban dari lawan bicara. Sudahkan anda merasakan hal ini? Pernahkah anda merindukan suatu komunikasi yang lebih berkualitas dengan seseorang karena selama ini hanya tergantung pada peralatan Teknologi Informasi?

Bagian 2. Akses dan pengolahan data/informasi menggunakan PC/notebook melalui Internet

Di bagian 2 ini saya akan coba membahas bahwa saat ini begitu mudahnya kita mendapatkan data/informasi dari Internet dengan menggunakan PC/notebook kita (termasuk mobile phone juga). Mari kita coba bandingkan masa lalu dimana kita belum mengenal Internet dan bersusah payah untuk mendapatkan data/informasi termasuk pengolahannya.

Dahulu setiap kali kita membutuhkan data/informasi, pasti akan ada usaha kita untuk baik membaca dari buku, paper ilmiah atau populer, majalah dan lain-lain. Kita cenderung akan lebih fokus dan berusaha menikmati, bahkan kalau sangat menarik kita bisa masuk dalam konteks tersebut sambil berimajinasi. Sebuah kenikmatan membaca buku yang mungkin bagi rekan-rekan mulai berkurang frekuensi-nya di saat-saat sekarang.

Saat ini, dengan adanya Search Engine misal Google maupun yang lain, setiap kali membutuhkan informasi kita cukup mengetikkan kata kunci (keywords). Bahkan dengan adanya Ensiklopedia seperti Wikipedia maupun ringkasan-ringkasan dari situs formal maupun non-formal seperti Blog, Forum dan sejenisnya membuat kita cepat mendapatkan informasi yang kita inginkan tanpa harus membaca utuh satu buku atau artikel aslinya.
Hal baiknya adalah kecepatan kita dalam menemukan informasi yang kita butuhkan, terlepas dari keakuratan informasi tersebut. Bahkan relatif kita bahkan bakal dibanjiri oleh berbagai informasi, sampai kadang kita mendapatkan kesulitan untuk memilah mana yang penting mana yang bukan.

Hal yang tidak menguntungkan adalah ketergantungan kita pada sumber-sumber digital tersebut, sehingga begitu tidak ada koneksi dengan sumber (baik Internet maupun offline), kita kadang mengalami kebingungan dalam membaca dan memahami informasi (atau bahkan knowledge) dan sulit dalam mengambil keputusan. Apalagi jika sumber-sumber tersebut tidak mempunyai cadangan/backup, sehingga jika terjadi gangguan/kerusakan akan membuat kita harus memulai dari awal lagi untuk memahami suatu informasi/knowledge.

Pernahkan kita mencoba untuk menyimpan catatan-catatan penting pada buku/notes lagi? Pernahkah kita mencoba memahami dan meresapi suatu informasi/knowledge yang penting ke dalam otak kita, dengan anggapan mungkin sumber digital itu tidak ada lagi? Pernahkah kita mencoba mengambil keputusan dengan mengingat semua memori yang ada dalam kepala kita, tanpa bantuan informasi/knowledge digital? Bagaimanapun juga, otak kita adalah sebuah supercomputer terhebat di jagat raya ini, yang merupakan ciptaan Allah SWT. Informasi/knowledge di sekeliling kita (secara analog) baik merupakan manusia. Lingkungan hidup bahkan benda mati pun merupakan sumber-sumber yang tidak akan habis dipelajari.

Sekali waktu, silahkan rekan-rekan mencoba berjalan pada suatu lingkungan yang segar alami di pedesaan, pegunungan atau pantai tanpa membawa peralatan digital apapun untuk coba menguji lagi sistem analog di tubuh kita apakah masih mampu berinteraksi dengan baik terhadap lingkungan kita (manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lain). Sebuah renungan sederhana dari penulis untuk diri sendiri, semoga bermanfaat bagi rekan-rekan juga. Salam, surahyo.

Thursday, August 12, 2010

Filter Konten Internet oleh Pemerintah (pro dan kontra)

Dear all,

Mungkin beberapa hari ini beberapa rekan merasakan penurunan kecepatan ketika mengakses Internet. Bisa jadi saat itu konten yang sedang anda akses sedang diperiksa oleh suatu sistem untuk memilah apakah layak untuk diteruskan atau tidak. Tentunya tidak semua akses mengalaminya, karena pintu keluar (gateway) masing-masing ISP berbeda-beda. Dari beberapa sumber, yang saat ini pasti mengalami proses filtering adalah Telkom, Indosat, Indosat Mega Media (IM2), XL Axiata, Bakrie Telecom, dan Telkomsel. Sedangkan ISP-ISP lain belum bisa dikonfirmasi, kemungkinan besar tidak dilakukan filtering terutama untuk ISP-ISP kecil.

Saat ini Kominfo sedang menerapkan bersama ISP akan menggunakan DNS Nawala dan database Massive Trust Positif. Silahkan diakses situs-situs berikut untuk penjelasan detailnya:
1. http://www.trustpositif.depkominfo.go.id/
Sebagai ringkasan, tujuan utama Trust Positif adalah:
Internet Aman & Sehat: Internet yang aman dan sehat dengan perlindungan terhadap akses internet berdasarkan daftar informasi sehat dan terpercaya (TRUST+™ List)
Perlindungan: Perlindungan pada masyarakat terhadap nilai-nilai etika, moral, dan kaedah-kaedah yang tidak sesuai dengan citra Bangsa Indonesia.
Penghematan: Penghematan terhadap pemborosan penggunaan akses internet (internet utilization) di Indonesia.


2. http://www.nawala.org/
Nawala Nusantara adalah sebuah layanan yang bebas digunakan oleh pengguna internet yang membutuhkan saringan situs negatif. Nawala Nusantara akan membantu menapis jenis situs-situs negatif yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan, nilai dan norma sosial, adat istiadat dan kesusilaan bangsa Indonesia seperti pornografi dan perjudian. Selain itu, Nawala Nusantara juga akan menapis situs Internetyang mengandung konten berbahaya seperti malware, situs phising(penyesatan) dan sejenisnya.

Sebelum berdiskusi lebih lanjut, saya coba akan menyarankan rekan-rekan untuk membaca sebuah berita mengenai Surveillance Pervasif dibawah pemerintahan Obama di Amerika dengan menggunakan sistem yang disebut "Einstein". Link ada di:
http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=14249
atau anda bisa membaca terjemahan oleh Google Tranlate di bawah ini:
http://translate.google.com/translate?js=y&prev=_t&hl=en&ie=UTF-8&layout=1&eotf=1&u=http%3A%2F%2Fwww.globalresearch.ca%2Findex.php%3Fcontext%3Dva%26aid%3D14249&sl=en&tl=id
Secara garis besar, pemerintah Obama mengawasi trafik Internet di Amerika dengan menggunakan "Einstein" yang dihubungkan ke database raksasa milik NSA (National Security Agency) bekerjasama dengan operator telekomunikasi AT&T, mungkin dengan Verizon dan Bell South juga.

Suatu hal menarik dari berita mengenai Surveillance Pervasif dibawah pemerintahan Obama adalah dipersiapkannya aturan hukum berupa dokumen "Pengkajian Dampak Privasi" atau Privacy Impact Assessment (PIA) for EINSTEIN 2. Dokumen tersebut dapat didownload di:
http://www.dhs.gov/xlibrary/assets/privacy/privacy_pia_einstein2.pdf
Disini dijelaskan bahwa pemerintah berhak mengawasi " aktivitas berbahaya "dan bukan informasi pribadi masyarakat.

Saya sengaja tidak hanya fokus pada konten Pornografi yang pasti tidak baik buat kita semua, apalagi di bulan Ramadhan. Tapi lebih juga kepada seberapa jauh dan seberapa bisa Pemerintah mampu mengontrol konten Internet yang diakses masyarakatnya. Selain Sistem Filtering yang harus dipersiapkan dengan baik (dalam artian Sistem yang handal, cepat dan akurat), tapi juga banyak hal lain yang harus diperhatikan. Mulai dari sosialisasi dan edukasi ke para pengguna Internet, aturan hukum yang melindungi kepentingan Pemerintah dan masyarakat.

Dari sisi teknologi, berikut saya cuplikan gambar topologi sistem Filter dari situs trust Posistif milik Kominfo:


Secara mudah bisa dijelaskan bahwa setiap kali rekan-rekan mengakses Internet, alamat yang anda tuju akan dibandingkan dengan daftar (list) mana yang boleh dan mana yang tidak. Detail daftar tersebut dapat di download di situs berikut:
http://trustpositif.depkominfo.go.id/files/downloads/database.html

Tapi bagaimanapun juga, setiap sistem pasti punya kelebihan dan kekurangan. Menurut beberapa pakar IT, sistem yang dipakai Kominfo bakal bisa mengalami overload sehingga bisa berhenti total jika tidak dikelola dengan baik. Selain itu, tidak semua konten yang negatif saja (pornografi, judi, phising dll) akan terblokir tapi juga beberapa situs lain misal Iklan, Bisnis berbasis Internet dan lain-lain pun bisa terblokir. Butuh suatu persiapan yang matang untuk membangun sistem filtering yang bisa memilah konten tapi juga tetap handal dengan trafik yang tinggi. Belajar dari pemerintah China dan Amerika yang sangat serius dalam hal ini, bahkan mereka juga mempersiapkan aturan hukum sehingga kalau ada yang merasa dilanggar privasi-nya, bisa diselesaikan melalui jalur hukum. Ingat, yang diawasi bukan hanya konten negatif saja, konten APAPUN bisa diawasi.

Sesuai dengan bulan Puasa ini, sebenarnya filter yang paling efektif adalah di dalam hati/pikiran kita sendiri. Kita sendirilah yang bakal tahu apa yang boleh dan apa yang tidak sesuai dengan Agama yang kita anut dan etika yang berlaku di masyarakat. Bagi yang tetap berkeinginan mengakses konten negatif, berapa kuat/hebat sistem filtering dipakaipun, tetap akan ada cara lain untuk mengaksesnya. The choice is yours.....!

Semoga tulisan pendek ini bermanfaat buat bahan diskusi kita semua. Mohon maaf dengan keterbatasan pemahaman dan pengetahuan penulis.

Terimakasih dan salam
Surahyo

Wednesday, August 11, 2010

Once we release a content on the Internet, then it will not be removable forever



Dear all,

Setelah lama tidak menulis Blog yang serius mengenai TI, saya coba rangkum beberapa kejadian yang terjadi baru-baru ini menyangkut masalah penipuan melalui media elektronik, atau kasus penyebaran konten yang tidak layak di Internet, atau pemanfaatan Internet utk mengintimidasi orang/kelompok lain dan sebagainya.

Sebagai referensi awal, silahkan kalau ada waktu bisa dibaca beberapa tulisan saya sebelumnya:
1. Penipuan melalui Yahoo Messenger (atau Facebook dan lain-lain)
http://surahyo.blogspot.com/2010/06/penipuan-melalui-yahoo-messenger-atau.html
2. Perlukah etika dalam pemanfaatan media elektronik (berbasis TI)?
http://surahyo.blogspot.com/2010/01/dear-all-sekedar-tulisan-ringan-mungkin.html
3. Ancaman Keamanan pada Digital Lifestyle
http://surahyo.blogspot.com/2009/03/ancaman-keamanan-pada-digital-lifestyle.html
4. Jangan lupakan sisi keamanan (pada jaringan WiFi anda)
http://surahyo.blogspot.com/2009/03/jangan-lupakan-sisi-keamanan-pada.html
5. Hacker dan Security System
http://surahyo.blogspot.com/2006/11/dear-all-kalau-melihat-judul-di-atas.html

Kasus real yang saya hadapi baru-baru ini adalah penipuan melalui Yahoo Messenger, dimana seseorang berhasil mengambil alih account YM seorang teman dan mencoba menipu saya dengan meminta tolong utk transfer uang melalui ATM. Kasus lain adalah tadi pagi seorang teman dosen menemukan seorang mahasiswa yang menulis di blog tentang bagaimana dia melakukan kecurangan dalam mengerjakan ujian. Atau lain waktu saya menemukan foto-foto saya digunakan orang lain tanpa seijin saya. Dulu waktu aktif menulis blog-pun, saya sering menemukan orang lain meng-copy isi blog saya tanpa seijin saya.


Secara garis besar, apapun kegiatan yang kita lakukan di Internet baik itu berupa email, blog, situs jejaring sosial, upload video di Youtube maupun hal yang sejenis akan bertahan di dunia maya tanpa batasan waktu. Hal ini termasuk komentar kita di status FB, Notes, Blog dan lain sebagainya. Kenapa saya bisa mengutarakan demikian, karena konten yang kita unggah ke Internet bukan berada di sistem kita saja (PC/Notebook dan server kita), tapi juga dengan cepat akan menyebar baik diketahui maupun tidak ke seluruh sistem yg lain. Kalaupun kita men-delete isi email, komentar, Notes, blog dll pun, ada sistem lain (PC milik seseorang, server di tempat lain dll) yang sudah terlanjur meng-copy dan bahkan menyimpan di dalam memory temporary maupun permanen (didownload dan disimpan). Setelah itu konten tersebut akan cepat sekali menyebar ke berbagai sistem yg lain.

Dalam konteks keamanan, hal ini juga sangat berbahaya karena ada pihak tertentu bisa memanfaatkannya. Dalam konteks privacy, ada pihak lain yang semestinya tidak perlu menikmati suatu konten pribadi yg akhirnya menjadi milik publik. Dalam konteks etika, dengan mudah kita menjelek2kan seseorang atau suatu kelompok yg bisa dikonsumsi orang lain yg tidak perlu terlibat. Dan masih banyak masalah2 lain yang bisa timbul karena kecerobohan kita tersebut.

Monggo silahkan coba sebuah eksperimen sederhana bagaimana konten yg kita buat bisa otomatis diamati orang lain. Coba buatlah sebuah konten dengan nama sebuah negara yg sedang menjadi isu kontroversial akhir-akhir ini. Konten bisa berupa status, komentar, foto, notes, video dan lain-lain. Lalu setelah itu, ketikkan nama negara tersebut di "Search" Facebook, muncul di kategori "Interest". Klik link tersebut, disana silahkan klik "Related Posts", maka konten yg anda buat otomatis ada disana. Silahkan dicoba.....

Eksperimen berikutnya, silahkan kunjungi situs:
http://www.copyscape.com/
lalu masukkan Blog atau situs yang anda kelola untuk mencari situs-situs lain yang meng-copy konten kita tanpa ijin.

Atau permahir fungsi "Search" di Facebook untuk mengetahui apakah ada orang lain yang memperbincangkan kita, dan yang pasti adalah Google sendiri kalau di-optimalkan akan menjadi pelacak yang sangat hebat utk konten2 tertentu baik dari kita maupun orang lain.
Sebagai contoh, saya masih bisa menemukan konten berupa email di milist tahun 1999:
http://www.dbai.tuwien.ac.at/marchives/fuzzy-mail99/0962.html
tanpa harus masuk ke dalam milist tersebut. Usia konten ini berarti sudah 11 tahun!

Saya coba menunggu dulu komentar dan pertanyaan rekan2 FB, nanti akan saya bahas lebih mendalam lagi dalam bentuk diskusi, Semoga bermanfaat bagi rekan2 FB.


Salam,
Surahyo

Friday, June 18, 2010

Penipuan melalui Yahoo Messenger (atau Facebook dan lain-lain)


Dear all,

Sekedar mengingatkan bahwa akhir2 ini marak penipuan dengan mengatasnamakan teman/kolega/keluarga kita melalui Yahoo Messenger, Facebook, email dan lain-lain.
Ini sekedar contoh baru beberapa menit lalu, salah satu account YM kolega saya di Jakarta yang diambil alih seseorang.
Tambahan:
Kasus Butet di DetikNews:
http://www.detiknews.com/read/2010/05/27/151629/1365210/10/percakapan-butet-dengan-pembajak-akun-ym-jajang-c-noer
dan di Internet Sehat
http://ictwatch.com/internetsehat/2010/06/09/belajar-dari-kasus-butet-kenali-modus-pembajak-akun-ym/

Sejak awal percakapannya sudah aneh karena gaya bahasa-nya lain, catatan beliau adalah senior saya. Tapi karena saya penasaran, saya coba layani dan dipancing-pancing utk mendapat data tentang orang tersebut. Sayang mungkin akhirnya dia sadar, karena terus berhenti. Tapi paling tidak saya bisa mendapatkan Nama, No Rekening dan Kantor Cabang Bank yang dia pakai. Sebenernya kalau mau lebih sabar tadi, saya bisa dapat Alamat dan No HP. Sekalian secara teknis saya coba lacak IP Address utk mengetahui lokasi, sayang dia gak Accept file yang saya kirim. Yang saya dapat IP Server Yahoo terdekat yaitu 98.137.130.28:5050.

Silahkan dijadikan sebagai pelajaran, terutama agar kita berhati2.
Tips pertama: Pahami dan hapalkan gaya menulis teman kita. Dari usia, jabatan, keakraban, kegiatan2 yg pernah dilakukan bersama dll pasti akan ingat di otak. Jika ada percakapan yg melenceng dari itu, berhati-hatilah. Percayakan pada insting, kalau gaya nulis/bicara udh beda...that must be something wrong.
Tips berikutnya adalah konfirmasi ke pemilik asli baik melalui telpon maupun yang lain.
Selain itu, rutin mengganti password dan menggunakan kombinasi huruf besar/kecil, angka, & karakter.


----- deleted conversation---------
xxxxx: nanti coba saya konfirmasi lagi..
xxxxx: oia mas,saya bisa minta tolong dulu tidak?
surahyo: gimana mas?
xxxxx: mas,d atm ada saldo 2juta ga?
surahyo: gimana?
xxxxx: ada saldo 2juta ga?
surahyo: ada sih
xxxxx: bsa tolong transfer dulu nda mas?nanti jam 3 saya kembalikan
xxxxx: tolong
surahyo: ke rekening mana?
xxxxx: mas pake rek apa?
surahyo: mandiri ada, bca ada
xxxxx: yang bsa langsung yang mana mas?
surahyo: terserah saja aku manut
xxxxx: makasih mas
xxxxx: 1234567789 (dia menuliskan no rekening)
xxxxx: ini mas
xxxxx: bsa sekarang kan?
surahyo: atas nama?
surahyo: cabang mana
xxxxx: suatunama cabang suatukota
surahyo: oke...ini rekening siapa?
xxxxx: adik ku.
xxxxx: gmn?
surahyo: oke no problem
surahyo: mohon alamat lengkap dan no HP
---------------------------------------------------------
dan sementara berhenti sampai disini.

Berikut hasil email dari pemilik account yang diberi notifikasi Yahoo bahwa ada yg merubah password-nya:
---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: Your Yahoo! password was changed
From: yahoo-account-services-us@cc.yahoo-inc.com
Date: Mon, June 14, 2010 11:54 am
To: xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
--------------------------------------------------------------------------


Your Yahoo! ID is: pr*******
(ID partially hidden for your privacy)

The password for your Yahoo! ID was recently changed. You don't need to do
anything, this message is simply a notification to protect the security of
your account.
Your new password may take a few moments to become active. If it doesn't
work on your first try, please try it again later.

- Didn't change your password?
1. Someone changed your password on June 14, 2010 at 11:54am ICT. Please
sign in to your Yahoo! account to confirm you still have access after the
change.

2. Reset your password (https://edit.yahoo.com/forgot?intl=us&partner)
from any sign-in screen by clicking the forgotten password link.


3. Visit the Yahoo! Security Center (http://security.yahoo.com/) to learn
how to protect yourself from phishing attacks.

Regards,
Yahoo! Account Services
********************************************************
Please do not reply to this message. Mail sent to this address cannot be
answered.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Semoga bermanfaat, salam.

Surahyo

Saturday, January 9, 2010

Perlukah etika dalam pemanfaatan media elektronik (berbasis TI)?


Dear all,

Sekedar tulisan ringan (mungkin tidak bermutu) dari saya di akhir tahun ini, untuk menyikapi beberapa kejadian akhir-akhir ini yang berhubungan dengan media elektronik baik Facebook, email, chat, blog, TV dan lain-lain.

Saat ini kita memasuki era dimana pengisi suatu konten berita (pendek/panjang) tidak hanya dari pengelola media, tapi bahkan para pembaca/anggotanya. Trend penulisan blog yang dahulu hanya digunakan untuk curhat, sekarang bisa digunakan untuk sarana marketing yang efektif. Mailing list yang dulu banyak digunakan untuk tukar cerita antar anggota yang mempunyai minat sama, bisa digunakan untuk menyebarkan infomarsi secara cepat. Facebook yang awalnya untuk berinteraksi antar anggota, sebagai media pengganti bersosialisasi secara fisik, sekarang pun bisa digunakan untuk menyebarkan berita, sarana marketing bahkan menggalang suatu kesepakatan bahkan gerakan dan lain-lain.

Hal yang bagus dari media elektronik adalah kecepatan dalam penyebarannya, sehingga efek yang diperoleh bisa secara instan. Tapi di lain pihak, kadang kebenaran berita belum tentu bisa dikonfirmasi dari awal, atau dibaca secara instan tanpa melihat kontekstual seperti kita berbicara langsung secara fisik, kadang-kadang bisa menimbulkan kesalahpahaman, kebingungan bahkan tuntutan hukum. Akhir-akhir ini kita cukup disibukkan dengan berbagai berita seperti Prita, KPK, Luna Maya dan sejenisnya. Bahkan liputan penggrebekan Noordin M Top selama 17 jam itu pun menimbulkan fenomena tersendiri. Sehingga kadang kita pun perlu mencermati apakah ada suatu koridor yang mampu membatasi kita supaya tidak timbul efek-efek yang berakibat negatif di kemudian hari.

Kesulitan dalam mengelola informasi/berita dalam media elektronik termasuk blog, email & FB ini adalah bagaimana mengontrol siapa saja yang berhak memanfaatkannya, apa efek yang akan ditimbulkannya dan seberapa jauh efek itu akan tertinggal, kalau ada koreksi apakah mudah dilakukan, dan lain sebagainya. Perlu diingat, apapun yang kita tulis baik itu hal baik maupun buruk akan selalu tertinggal di media elektronik sampai kapanpun. Walaupun sumbernya dihapus, masih ada copy-copy lain yang masih tertinggal. Apakah berupa log file pada server, di forward ke email/blog/FB lain, di-print-out untuk dikoleksi dan lain-lain.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa hal tersebut harus diatur melalui suatu aturan baku seperti UU maupun yang sejenis. Tapi beberapa orang mengatakan bahwa etika sudah bisa digunakan untuk hal seperti ini. Untuk bisa membuat, memanfaatkan dan memelihara suatu UU yang berhubungan dengan hal-hal seperti ini pasti membutuhkan usaha yang tidak mudah, bahkan terjadi di negara-negara yang sudah maju. Sehingga mungkin kita bisa mencoba memahami dan menelaah lagi suatu yang pernah kita miliki, terutama sebagai umat beragama dan manusia yang berbudaya, yaitu etika. Etika bisa merupakan suatu kesepakatan di dalam suatu lingkungan yang memberikan arahan mana yang baik, buruk, salah, benar dan lain-lain. Sehingga memang di lingkungan berbeda bisa berlainan etika-nya.

Kembali pada pemanfaatan media elektronik (berbasis TI), mengingat adanya kelebihan dan kekurangan yang disebut di atas, sepertinya kita butuh etika dalam menuliskan, mengungkapkan, membagikan berbagai informasi kepada semua orang. Kekakuan penyelesaian masalah karena penggunaan aturan baku (misal hukum) kadang-kadang akan membuat kesulitan kita dalam mendapatkan solusinya. Insya Allah, jika kita bisa bersikap bijak dan memahami etika yang berlaku, dan pasti mengacu pada ajaran agama kita masing-masing, solusi bisa kita dapatkan dengan baik.

Sekali lagi, ini hanya sekedar tulisan saya yang sangat sederhana, tanpa landasan pemahaman yang mendalam mengenai topik di atas. Paling tidak saya mencoba untuk belajar menulis sesuatu yang lebih berguna baik melalui Notes, status, komentar, foto dan lain-lain. Kadang masih terjadi kekhilafan dalam hal-hal tersebut, baik di blog, email, & FB tapi saya akan berusaha memperbaikinya. Ketidak hati-hatian saya dalam menulis status, memberikan komentar pada orang lain tanpa konfirmasi atau cek-ricek, mengupload foto yang tidak berkenan dan masih banyak yang lain. Mohon maaf jika selama ini ada hal-hal yang disengaja ataupun tidak, yang menimbulkan ketidaknyamanan Blogger yang lain. Jika dimungkinkan, pasti akan saya usahakan untuk memperbaikinya.

Sebagai penutup, saya kebetulan menemukan sebuah tulisan di blog yang saya coba pahami dan renungkan artinya. Sebuah cara bagi saya untuk melakukan koreksi diri terhadap diri saya yang sering melakukan kesalahan. Silahkan dibaca di:

Bicara Menentukan Peribadi:
http://jqafsadr.blogspot.com/2009/02/bicara-menentukan-peribadi.html

Semoga bermanfaat buat rekan-rekan Blogger, salam dan terimakasih
Surahyo