Wednesday, May 25, 2016

Baca, pahami, renungkan

Dear all, Selamat pagi/siang/sore/malam, semoga teman-teman dalam keadaan sehat selalu. Sudah lama sekali saya tidak menulis Notes disini, kali ini mencoba share apa yang sedang saya renungkan. Hal tersebut berkaitan dengan banyaknya informasi (atau malah data) yang bermunculan di Internet, baik melalui FB, Instagram, Path, Whatsapp, Line, SMS, email dan berbagai bentuk komunikasi elektronik dan sosial media. Sebelum membaca lebih jauh, saya ingin berbagi dulu 2 (dua) gambar berikut ini. Yang pertama mengenai gunung es attitude, dan yang kedua mengenai piramida informasi.
Berdasarkan kedua gambar tadi, mari kita coba cermati bersama. Dari piramida informasi, terlihat bahwa pertama kali kita akan mendapatkan data-data yang nantinya setelah terkumpul akan memberi arti terhadap sesuatu, yang akan kita sebut sebagai informasi. Informasi ini bisa saja benar, salah, berguna, tidak berguna dan seterusnya. Dari berbagai informasi yang terkumpul dari banyak sumber, mulailah kita mendapatkan pemahaman (knowledge), yang kadang harus melalui diskusi, pertentangan, pengujian dan seterusnya. Artinya, tidak mudah bagi kita langsung memahami sesuatu jika hanya mendapatkan informasi yang sedikit dan belum tentu kebenarannya. Pemahaman tersebut pasti membutuhkan waktu dan usaha tersendiri, yang di era serba instan seperti ini kadang kita tidak sabar untuk melakukannya. Apalagi jika emosi kita terpancing, akan sangat mudah bagi kita untuk memaksa memahami dan berkeinginan untuk menyebarkannya. Contoh sederhana adalah jika ada informasi tentang sesuatu/seseorang yang sifatnya di luar kebiasaan, baik dari sisi positif maupun negatif. Terbukti bahwa kadang kita terpancing untuk sharing informasi yang ternyata tidak terbukti kebenarannya (HOAX). Hal ini sudah lama terjadi, tapi semakin menjadi terutama sejak ada PilPres 2014 lalu, dan berlanjut sampai sekarang. Ini berlaku juga dengan hal-hal terbaru akhir-akhir ini seperti serangan teroris di Jakarta, tangan robot, perakit televisi, keracunan kopi dan lain-lain. Jika kita mau sedikit berusaha, dengan melihat sumber informasi, membandingkan dengan sumber lain, berusaha mempertanyakan kebenarannya, sebenarnya kita sedang berusaha naik satu tingkat lebih atas untuk mendapatkan pemahaman (knowledge). Internet banyak memberi kemudahan dengan adanya search engine (misal Google), atau bahkan diskusi dengan orang yang lebih ahli atau sumber-sumber lain, untuk bisa memastikan dan mendapatkan informasi yang benar dan akurat. Dengan berjalannya waktu, semakin kita meresapi pemahaman-pemahaman yang kita miliki, maka kita akan naik ke tingkat lebih tinggi lagi yaitu kebijaksanaan (wisdom). Di level ini, tidak harus di bidang yang sama, maka intuisi (gerak hati/batin) akan membantu merasakan apakah informasi yang sedang kita dapatkan ini benar atau tidak, penting atau tidak untuk kita bagikan ulang (share). Di gambar kedua juga bisa dilihat, bahwa walaupun kita punya knowledge/skill yang bagus pun, tetap harus memiliki attitude yang baik pula. Baik wisdom maupun attitude adalah hal yang kita miliki tidak hanya di otak (yang menggunakan logika), tapi juga sudah di level hati/perasaan. Makanya dalam bahasa Indonesia (atau bahasa lain), dibedakan antar pikiran (di otak/brain) dan perasaan (di hati/heart) walau secara fisik sebenarnya keduanya di otak/brain juga. Secara umum bagi kita yang masih normal, hati/perasaan akan memberi tanda/sign bahwa informasi yang kita terima sepertinya tidak benar. Disitulah sebenarnya wisdom (yang didapat dari kumpulan pemahaman2 di bidang lain) dan attitude kita berperan sebagai filter/penyaring karena saat ini begitu cepatnya dan begitu banyaknya informasi berdatangan. Wisdom dan attitude ini juga biasanya kita dapatkan dari pendidikan agama dan etika/norma baik di rumah, di sekolah maupun di lingkungan kita sehari-hari. Saya kira, ada 3 hal yang perlu kita lakukan sebelum kita membagi informasi (apalagi di Internet). Pertama, pastikan dahulu apakah informasi itu benar atau tidak. Yang kedua, jika pun benar, apakah bermanfaat atau tidak bagi orang lain (dan kita tentunya). Dan yang terakhir, kalaupun bermanfaat, apakah perlu kita bagikan sekarang atau nanti. Ada banyak hal yang bisa lakukan sebelum informasi itu terbagi/terkirim, walaupun tantangannya sangat berat karena hanya dengan 1 klik saja informasi tersebut langsung terkirim. Jika ada waktu, di bawah ada beberapa Notes sebelumnya yang berkaitan dengan topik ini. Sekali lagi, ini hanya sebuah tulisan pendek dengan 2 gambar. Semoga teman-teman ada waktu untuk membaca, memahami dan merenungkan maknanya. Semoga juga bermanfaat bagi teman-teman. Salam hangat. Surahyo Sumarsono

No comments: