Thursday, February 7, 2008

On-Demand Customer Relationship Management



Dear all,

Melanjutkan artikel saya tentang Customer Relationship Management (CRM) beberapa waktu lalu, tidak ada salahnya juga bisa kita diskusikan konsep (relatif) baru dalam pengelolaan CRM itu sendiri. Saat ini, banyak perusahaan yang sudah menerapkan CRM baik menggunakan bantuan Teknologi Informasi (TI)maupun dengan cara manual (analog). Bagi perusahaan yg menerapkan CRM dengan menggunakan TI, tantangan terbesar adalah bagaimana Sistem Informasi tersebut bisa sesuai dengan kebutuhan dan investasi yang dilakukan bisa memberikan keuntungan. Apalagi jika perusahaan tersebut belum mempunyai konsep dan framework CRM yang jelas, yang sesuai dengan jenis usaha dan karakter dari para customernya. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan merasa penerapan aplikasi CRM mereka menjadi tidak optimal.

Tantangan di atas bisa diartikan bahwa tanpa melalui pemahaman yang menyeluruh terhadap konsep CRM pada suatu perusahaan, dan kemudian terjadi penerapan aplikasi CRM yang sudah jadi, bisa mengakibatkan perusahaan hanya sekedar mengikuti fitur/fungsi dari aplikasi CRM itu sendiri. Kustomisasi sangat dimungkinkan,tapi biasanya membutuhkan biaya yang besar dan effort yang tidak sedikit. Sedangkan jika perusahaan tersebut mengembangkan sendiri (in-house development), sangat tergantung dari siklus Planning, Development dan Implementation yang bisa dikelola dengan baik atau tidak, termasuk kualitas SDM IT perusahaan tersebut.

Melihat peluang seperti yang tersebut di atas, beberapa solusi baru dalam CRM mulai diperkenalkan sejak beberapa tahun yang lalu. Salah satu yang sangat terkenal adalah solusi On-Demand CRM yang diperkenalkan oleh Salesforce.com (http://www.salesforce.com). Salesforce.com berusaha memberikan suatu paradigma baru dalam penggunaan Sistem Informasi dalam perusahaan, dimana kita tidak membutuhkan lagi hardware maupun software yang harus kita beli, install dan maintenance. Suatu konsep yang sering disebut sebagai ASP atau Application Service Provider. Jika suatu perusahaan membutuhkan solusi CRM, yang mereka butuhkan adalah account di Salesforce.com lalu perusahaan tersebut bisa mempunyai solusi CRM yang bisa digunakan secara langsung selama terkoneksi ke server On-Demand CRM tersebut. Keterangan ada di http://www.salesforce.com/platform/why-ondemand/index.jsp

Bisa dijelaskan, bahwa On-Demand CRM adalah menyewa solusi CRM pada suatu provider IT menggunakan koneksi Internet. Dikatakan On-Demand karena kita bisa memakai kapanpun kita mau dan bayar sesuai dengan layanan yang kita pakai saja. Jadi yang dibutuhkan adalah PC di perusahaan yang terkoneksi ke server Salesforce.com melalui Internet, lalu buka account yang sudah terdaftar, kemudian kita bisa menggunakan layanan baik untuk kebutuhan Sales, Marketing, Customer Service maupun yang lain. Biaya yang dikeluarkan mulai dari $10/user/month utk group edition atau bahkan kita bisa mencoba Free-Trial Edition selama 1 bulan utk sekedar mengetahui berapa cocok solusi itu utk kita. Bahkan ditawarkan solusi untuk Personal Edition tanpa biaya, silahkan dicoba deh. Biaya bisa dilihat di http://www.salesforce.com/products/editions-pricing/

Hebatnya lagi, Salesforce.com menawarkan juga solusi integrasi ke server database internal perusahaan sehingga kita bisa langsung berinteraksi ke database customer yang sudah kita punyai sebelumnya. Sebagai kesimpulan, solusi On-Demand seperti ini ke depan akan semakin banyak diminati, dimana perusahaan bisa lebih fokus ke Core-Business mereka, tidak lagi direpotkan dengan pengembangan, implementasi dan maintenance sistem informasi mereka. Tentunya tidak semua jenis Sistem Informasi Perusahaan bisa disewa seperti ini, karena ada beberapa jenis harus tetap di-implementasi di dalam perusahaan menyangkut kerahasiaan data, ketergantungan dan lain lain. Selamat mencoba solusi baru ini, salam. Surahyo

Tuesday, December 18, 2007

Information Technology Infrastructure Library/Service Management


Dear all,

Mungkin beberapa dari anda belum familiar dengan apa itu ITIL/SM (IT Infrastructure Library/Service Management). Sebuah istilah yang mulai populer akhir-akhir ini di dunia TI, yang berupa Framework untuk mengelola infrastruktur TI di suatu organisasi dan bagaimana memberikan service terbaik bagi pengguna layanan TI. ITIL sendiri dimulai oleh OCG (Office of Governance Commerce) di Pemerintah Inggris untuk memberikan guidance bagi organisasi/perusahaan disana.

Secara gampang, ITIL sendiri merupakan suatu framework yang konsisten dan komprehensif dari hasil penerapan yang teruji pada manajemen pelayanan teknologi informasi sehingga suatu perusahaan dapat mencapai kualitas dukungan layanan yang diinginkan. Saat ini ITIL telah didukung oleh susunan materi dan kursus pelatihan (termasuk ujian dan sertifikasi). Saat ini, ITIL telah mencapai versi terbaru yaitu ITIL V3 - Service Life Cycle.

ITIL mencakup delapan kumpulan, yaitu service support, service delivery, rencana pengembangan service management, ICT infrastruktur management, application management, business perspective, security management, dan software asset management. Dua di antaranya, yaitu service support dan service delivery merupakan area utama, yang disebut juga IT Service Management (ITSM). Secara bersama-sama, dua area ini mengandung beberapa disiplin yang bertanggung jawab untuk penentuan dan manajemen pelayanan Teknologi Informasi (TI) yang efektif.

Sebenarnya tujuan utama dari penerapan ITIL/SM ini adalah sebagai jembatan antara pihak manajemen dan divisi TI agar keduanya bisa berkomunikasi lebih efektif dan efisien. Sering terjadi, fokus bisnis dan fokus TI berjalan sendiri-sendiri sehingga perusahaan tidak bisa memanfaatkan infrastruktur TI yang ada dengan optimal. Departemen/divisi TI dalam suatu perusahaan seharusnya merupakan suatu organisasi yang memberikan layanan (Service Organisation). Divisi TI harus sensitif dan responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan bisnis. Mereka juga harus bisa mengenali dan memahami pelanggan mereka (user di dalam sistem).

Jika kita kenal SLA (Service Level Agreement) sebagai bentuk perjanjian layanan dari suatu IT provider kepada pelanggan, didalam perusahaan kita juga akan kenal OLA (Operational Level Agreement) yang merupakan perjanjian layanan dari suatu divisi TI kepada pelanggan/pengguna internal. Divisi TI bisa memberikan layanan secara professional, efeknya mereka juga bisa merupakan bagian dari bisnis itu sendiri. TI harus bisa menjadi enabler (pemampu) bukan hanya sebagai tool (alat bantu) dalam suatu bisnis. Semoga memberikan wawasan baru, salam hangat.

Saturday, September 22, 2007

IT itu mahal? Sistem Informasi mungkin mahal...


Dear all,

Beberapa waktu lalu, ada mahasiswi saya yang nanya "Kenapa IT itu mahal pak? Sehingga banyak implementasi yang tidak berhasil". Menurut dia, sebagian besar temen-temennya juga berpendapat seperti itu. Kemudian setelah melalui beberapa diskusi, baru saya tahu bahwa temen-temennya tadi bertanya begitu karena mereka menganggap IT adalah koneksi Internet. Hmmmm tidak bisa disalahkan sih pendapat seperti itu.

Sebenarnya IT itu tidak hanya koneksi Internet saja. Bisa kita lihat, komponen di IT bisa terdiri dari: Software, Hardware, Network dan Database. Jadi koneksi Internet bisa kita masukkan ke Network, yang memang mahal kalau di negara tercinta kita ini. Tapi apakah koneksi Internet selalu digunakan di semua perusahaan? Jawabnya adalah TIDAK, karena di sebagian besar perusahaan, Internet saat ini hanya digunakan sebagai kanal (channel) untuk berinteraksi dengan pelanggan atau partner, belum digunakan utk mendukung integrasi antar perusahaan. Jadi tanpa Internet pun, perusahaan akan bisa beroperasi dan berkompetisi dengan baik. Yang lebih utama di komponen IT justru di Software (aplikasi Keuangan, Kepegawaian, Pergudangan dll), Harware (PC, notebook, printer dll), Network (Local Area Network dan Wide Area Network), Database (database keuangan, inventory, customer dll) utk mendukung operasional perusahaan tsb.

Kembali ke istilah IT, banyak orang salah menafsirkan bahwa IT adalah Sistem Informasi. Padahal IT itu hanya satu bagian dari sesuatu yg lebih kompleks yang disebut Sistem Informasi. Kalau kita bicara ttg penerapan di perusahaan, sebenarnya kita bicara tentang Sistem Informasi. Dimana Sistem Informasi itu terdiri dari:
1. Business Process
2. Information Technology (Hardware, Software, Network, Database)
3. People (System Owner, System User, IS Specialist)
Dari gambar yg saya ambil dari buku Intro to IS karangan James A. O'Brien, McGraw-Hill 2007 di atas, terlihat biaya terbesar rata2 utk penerapan Enterprise System adalah utk Business Process Re-engineering (BPR). Terlihat kontribusi IT sendiri yg terdiri dari Software & Hardware sebesar 27%. BPR sendiri merupakan kegiatan dari perusahaan utk menyesuaikan Business Process-nya ke Best Practice dari suatu industri tertentu. Dimana para pengguna (user) harus melakukan perubahan dalam cara bekerja mereka, yg merupakan hal yg terberat karena sudah bisa bekerja dg pola lama selama bertahun-tahun. Perusahaan banyak mengeluarkan biaya karena harus menyewa konsultan2 yang terkenal seperti Accenture, IBM-PriceWaterhouseCooper, Cap Gemini dan lain-lain.

Berikut itu jangan lupakan biaya yang harus dikeluarkan dalam mengelola People sebagai komponen yang paling sulit kita kendalikan. Change Management yg terarah, meliputi sosialisasi, pelatihan, mentoring, motivasi bagi pengguna dll pun memberikan kontribusi biaya juga bagi perusahaan tersebut. Sering kali bahkan penolakan dari pengguna (user) akan memberikan beban dari manajemen dalam rangka penerapan Sistem Informasi tersebut.

Sedangkan biaya yg dikeluarkan utk Hardware sendiri saat ini sudah sangat terjangkau, karena teknologi sudah semakin mature dan terstandarisasi. Bahkan beberapa perusahaan sudah melakukan Outsourcing atau sewa PC agar bisa lebih simpel dalam pengelolaannya. Software utk kebutuhan bisnis makin beragam dan terstandarisasi sehingga makin terjangkau harganya, bahkan gratis kalau menggunakan Open Source Software (OSS) spt Linux, OpenOffice dll. Tekonologi jaringan mudah didapat, bahkan untuk membangun sebuah LAN sederhana, biayanya sangat terjangkau (hub/switch bisa dibawah 500 ribu + kabel2). Pengembangan database pun makin mudah didapat, karena banyak pilihan di DBMS Application spt MS SQL, Oracle atau OpenSource DBMS spt MySQL, PostgreSQL dll.

Jadi sebagai kesimpulan, biaya yang dikeluarkan dalam rangka penerapan Sistem Informasi bisa mahal karena ada komponen-komponen yg tidak diperhatikan dengan baik dari awal. Perencanaan yang asal2an akan mengakibatkan pemetaan Business Process tidak maksimal, bahkan hanya membuang biaya saja. Setelah dikembangkan sistem tsb, tidak dibarengi dengan strategi Change Management yg tepat sehingga komponen People tidak bisa mengikuti atau seirama dengan Sistem-nya. Utk komponen IT, sdh mulai terjadi standarisasi dan kematangan (mature) sehingga makin mudah kita utk mencari alternatif yang terjangkau harganya. Internet? Itu hanya bagian dari Network, dimana Network merupakan bagian dari IT yg mana IT jg merupakan bagian dari Sistem Informasi itu sendiri. Mungkinkah perusahaan berjalan tanpa Internet? Sangat mungkin sekali, kalaupun dibutuhkan paling hanya utk komunikasi dengan email, chat, website dengan koneksi minimal dengan biaya 100-200 ribu per bulan. Semoga memberikan pemahaman baru, terimakasih. Salam, surahyo.

Wednesday, August 29, 2007

Apple iPhone



Dear all,

Mungkin sebagian pembaca pernah mendengar atau melihat iklan iPhone. Sebuah device baru dari Apple yg membuat banyak orang kagum thd inovasi2 yg dilakukannya. Masih ingat betapa fenomenalnya iPod di dunia (walau di Indonesia tdk begitu)? iPod berhasil membuka mata banyak produsen dan pemakai MP3 player bagaimana seharusnya kita menikmati musik itu. Dengan desain yang sangat cantik, mudah digunakan, dan yg paling penting adalah adanya iTunes. Desain cantik iPod sendiri mengalami puluhan kali revisi, shg didapatkan bentuk yg sempurna, tanpa sekrup atau apapun, putih bersih dan indah. Menu2nya sangat mudah digunakan, seperti kalau kita menggunakan Apple Macintosh di PC/Notebook. iTunes jg bukan hanya aplikasi player MP3 di PC dan tool sinkronisasi ke iPod, tapi juga sebagai sarana pengguna utk download konten MP3 secara LEGAL dari situs Apple. Itulah kehebatan Steve Jobs utk memaksa industri musik percaya dengannya dan mau menjual konten lagu lewat jaringan iTunes. Kalau anda cari info di Internet, terlihat betapa powerfull-nya iPod. Hampir semua mobil kelas atas di Amerika dan Eropa menyediakan iPod konektor di sound system-nya. Industri aksesoris iPod sdh mencapai $ 1 milyar....wow ck ck ck (http://www.businessweek.com).

Kembali ttg iPhone, kita lihat sekali lagi Apple mencoba membuka mata orang utk memahami bagaimana seharusnya handphone itu digunakan (bukan diciptakan). Ingat sekali lagi, seperti iPod juga, Steve Jobs memberikan CARA baru bagi kita utk mendengarkan musik digital. Desain iPhone memang cantik dan keren, tapi lebih hebat lagi adalah cara kita menggunakannya. Walau bukan hal yang baru, iPhone tidak menggunakan keypad sama sekali. Keyboard virtual iPhone mungkin yg terbaik saat ini, walau kecil tapi sangat mudah digunakan tanpa bantuan stylus sama sekali. Begitu jari kita mendekati huruf, ukurannya akan membesar shg mudah ditekan.

Semua menu sangat mudah diakses, dengan tampilan yg enak dilihat. Mulai dari menelpon, SMS, cek email, buka web, dengerin musik (kata mereka ini adalah iPod terbaik yg pernah ada), melihat video, buka Google Map dll semua sangat mudah sekali digunakan. Bahkan dg adanya sensor, tampilan di layar yg jernih itu bisa berubah sendiri dr portrait ke landscape tergantung posisi kita memegang iPhone tadi. Scrolling menu apa aja, cukup dengan menggerakan jari ke atas ke bawah. Zooming cukup dengan 2 jari membuka keluar dll. Yang pasti sangat mudah dan memberikan pengalaman baru dalam menggunakan handphone. Dengan harga $499 utk memory 4 GB, dan $599 utk 8 GB, saya yakin pembeli akan puas dengan performance-nya.

Sekedar informasi, iPhone ini belum mendukung 3G tapi sdh ada WiFi. Ada alasan tersendiri Apple belum menyertakan ini, krn mereka menganggap layanan 3G belum maksimal. Tapi dari semua itu, Apple berhasil memperlihatkan bagaimana sebaiknya handphone itu digunakan. Bukan dari inovasi teknologi-nya saja, karena O2, Dopod, Nokia, Motorola dll pun sudah mempunyai teknologi itu. Jadi Apple berhasil menangkap kebutuhan pengguna, lalu menuangkannya dalam sistem yg mudah, keren dan handal. Saya pribadi menganggumi Steve Jobs yang berhasil membawa Apple utk bangkit lagi, baik dari divisi komputer (Macintosh Desktop dan Notebook), digital music player (iPod) dan sekarang handphone (iPhone). Kapan2 akan saya tulis kehebatan Apple Macintosh deh. Saya sendiri gak sabar ingin memiliki iPhone sebagai suatu gadget yg bagus utk dikoleksi. Salam, surahyo.

Tuesday, July 17, 2007

Tantangan Networking Specialist

Dear all,

Mungkin semua sudah tahu apa itu network/jaringan yg digunakan sebagai infrastruktur Sistem Informasi di berbagai organisasi/perusahaan. Secara umum, hampir semua perusahaan mempunyai jaringan yang bisa menghubungkan antar PC dan peripheral lain baik secara lokal (LAN), antar kota/negara (WAN) atau bahkan ke jaringan publik (Internet). Dengan kata lain, komunikasi data dengan mudah dilakukan antar PC, divisi, kantor cabang, partner, customer dan lain-lain.

Tapi kalau kita cermati, kebanyakan jaringan yang dibuat adalah sekedar menghubungkan antar PC atau antas sistem dengan peralatan2 seperti hub/switch dan router. Lalu dibuat pengkabelan dengan UTP, Coaxial, Wireless, Fiber Optic dan sebagainya. Apakah sekedar menghubungkan seperti itu sudah cukup? Sepertinya tantangan bagi ahli jaringan sekarang semakin kompleks dan terus berkembang.

Saya beberapa hari lalu baru memberikan materi workshop Networking dengan Cisco Device di Makasar. Beberapa peserta yang dari Banking dan industri lain menanyakan tentang pengelolaan jaringan yg baik itu seperti apa. Terlihat sekarang bahwa data yang dilewatkan di atas jaringan bukan hanya sekedar text biasa seperti jaman kita menggunakan DOS dulu. Ada aplikasi2 yang sifatnya sangat penting misal Core Banking System (CBS), Enterprise Resource Planning (ERP) dll yang membutuhkan perlakuan berbeda ketika melewati suatu jaringan. Misal maksimal delay (waktu tunggu) yang diijinkan tidak boleh melebihi waktu tertentu agar koneksi tidak bermasalah. Bahkan tantangan untuk bisa mengkoneksikan antar kantor cabang bisa menjadi sumber sakit kepala bagi ahli jaringan, ketika bandwith yang disewa dari provider besarnya hanya terbatas.

Aplikasi2 yang berjalan di atas suatu Sistem Informasi di perusahaan sekarang semakin beragam dengan menggunakan tidak hanya text tapi juga gambar, suara, video dll. Trafik yang semakin kompleks tadi membuat jalur di atas jaringan menjadi tidak optimal karena terjadi perebutan jalur, antrean yang panjang, kemacetan dan lain-lain. Jadi secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa seorang Networking Specialist semakin banyak. Kalau dulu cukup mempelajari cara pengkabelan dan setting peralatan jaringan (network device), sekarang harus memahami tipe aplikasi yang lewat, proses bisnis antar divisi/kantor/partner, prioritas bagi aplikasi tertentu, jumlah user/divisi/cabang/partner/customer dan lain sebagainya. Belum lagi ada tantangan untuk menyatukan komunikasi suara dan video di atas jaringan, dengan konsep Unified Communication yaitu integrasi Voide, Video dan Data di atas infrastruktur yang sama.

Ilmu-ilmu baru bagi seorang Networking Specialist misal seperti Traffic Management, Quality of Service, Intelligent Network, Unified Communication dan lain-lain menjadi semakin populer dan dibutuhkan. Mereka tidak mungkin hanya cukup dengan memahami pengkabelan, setting switch/router, TCP/IP saja. Untuk itu, seorang Networking Specialist harus selalu meng-upgrade knowledge dan skill agar sesuai dengan kebutuhan bisnis organisasi/perusahaan sekarang. Demikian cerita dari saya, semoga bermanfaat bagi pembaca. Salam, surahyo

Tuesday, July 10, 2007

Enterprise Information System (EIS)

Sering kita melihat bahwa aplikasi/software yang dipakai sehari-hari di atas PC adalah aplikasi yang sifatnya individual. Artinya aplikasi tsb hanya digunakan untuk melayani kebutuhan pemakai tersebut, misal MS Office/OpenOffice, Photoshop, Acrobat Reader dan lain-lain. Tentunya hal ini sudah sangat mencukupi jika memang informasi yang diolah hanya diperlukan oleh pemakai tsb saja. Dengan skala yang sedikit lebih luas, ada juga aplikasi yang melayani kebutuhan suatu bagian/divisi saja. Misal aplikasi kepegawaian, aplikasi keuangan, aplikasi penjualan dan sebagainya. Di dalam aplikasi seperti ini, antar pemakai di divisi yang sama bisa saling berbagi informasi dengan mudah.

Sekarang bagaimana dengan informasi yang harus digunakan oleh divisi/bagian lain? Semua informasi ttg berapa banyak barang yg terjual di divisi Sales apakah dengan mudah bisa langsung diketahui oleh bagian Keuangan juga bagian Logistik? Saat-saat inilah kita akan membutuhkan suatu sistem informasi yang bisa menyatukan semua informasi yang ada di masing-masing bagian/divisi tadi. Oleh beberapa textbook, sistem informasi ini sering disebut Enterprise Information System (EIS).

Hal mendasar dari EIS adalah platform teknologi yang bisa menyatukan semua informasi dari berbagai bagian menjadi satu (single) informasi secara lojikal, sehingga Enterprise (perusahaan/organisasi) bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan mudah. Dalam hal ini, tidak hanya sekedar penggunaan teknologi jaringan misal LAN (local area network) sehingga antar divisi terhubung secara fisik tapi juga integrasi proses bisnis masing2 divisi. Dibutuhkan juga penyatuan semua database secara lojikal, sehingga bukan hanya antar divisi tapi juga pengaksesan informasi untuk semua level di organisasi baik dari staf operasional, manajer maupun direktur.

Contoh EIS yang sering kita dengar adalah Enterprise Resource Planning (ERP), Customer Relationship Management (CRM), Supply Chain Management (SCM) dan masih banyak yang lainnya. Tantangan terbesar dalam implementasi EIS adalah tingkat kesulitannya karena sangat kompleks, membutuhkan waktu lama, biaya mahal dan belum tentu berhasil. Walaupun begitu, sekarang makin banyak pilihan untuk solusi EIS ini. Sehingga perusahaan bisa menentukan solusi mana yang paling cocok. Beberapa contoh vendor EIS misal SAP (www.sap.com), Oracle (www.oracle.com) maupun yang lain. Tidak menutup kemungkinan, EIS juga bisa dibangun sendiri oleh staf IT internal suatu perusahaan, selama memenuhi syarat2 di atas.

Wednesday, February 28, 2007

Customer Relationship Management (CRM)

Dear all,

Mungkin sudah sering dengar CRM (Customer Relationship Management) atau Pengelolaan Hubungan dengan Pelanggan. Sebenarnya apa sih konsep ini? Merujuk kepada beberapa text book, kegiatan CRM meliputi Acquire (mendapatkan), Enhance (Tingkatkan) dan Retain (Pertahankan) pelanggan. Artinya bagaimana kita bisa selalu mendapatkan pelanggan baru, meningkatkan hubungannya sehingga mereka puas dengan layanan kita, yang ujung-ujungnya mereka bisa menjadi pelanggan yang loyal yang selalu bisa kita pertahankan.

CRM secara umum digunakan untuk membantu kegiatan di Sales, Marketing dan Customer Service. Lebih tepatnya, CRM dipakai sebagai sarana penghubung dari suatu perusahaan ke pelanggannya. Dengan melalui channel (kanal) yang dikelola dengan baik, kita bisa mendengarkan apa yang diinginkan pelanggan, apa yang mereka keluhkan, bagaimana competitor bertindak terhadap produk/jasa kita, dan berbagai kegiatan sejenis.

Bagaimana pengembangan dan implementasi CRM dengan menggunakan Sistem/Teknologi Informasi? Sebenarnya, dengan menggunakan aplikasi spreadsheet seperti MS Excell, OpenOffice Calc dll pun bisa dibuat CRM sederhana. Data pelanggan secara rajin dan teliti dicatat, sehingga setiap mereka menggunakan jasa/produk kita, kita bisa melayani sesuai riwayat data transaksi. Tidak perlu mereka ditanyai satu persatu secara detail, bahkan cukup dengan mneyebutkan Customer ID kita bisa tahu semua informasi detail mereka. Untuk Usaha Kecil Menengah (UKM), misal bengkel mobil, akan sangat nyaman begitu ada mobil masuk ke bengkel, bagian Sales/Customer Service langsung memasukkan nomer mobil sehingga bisa diketahui siapa pemiliknya, kapan terakhir servis, jenis oli yang dipakai, montir langganan dll. Sehingga begitu pelanggan duduk, CS sudah siap dengan menjawab segala pertanyaan.

Untuk perusahaan besar, pasti dibutuhkan aplikasi pengelolaan database (DBMS = DataBase Management System), bisa dengan MS SQL, Oracle, MySQL, IBM DB2 dll. Semua kegiatan yang dilakukan dengan customer akan disimpan secara lengkap, sehingga kalau dibutuhkan akan mudah diakses. Diatas itu akan bisa dibangun aplikasi yang sesuai business logic dari CRM tiap perusahaan. Kebutuhan di perbankan akan berbeda di industri telekomunikasi, begitu juga di retail, hospitality dll. Beberapa vendor besar sudah menyediakan solusi CRM, seperti PeopleSoft, Siebel dll, walaupun akhir2 ini ada trend dimana perusahaan tidak harus implementasi CRM tapi bisa menyewanya. Sering disebut CRM On-Demand,misal solusi yg ditawarkan Salesforce.com (http://salesforce.com). Sehingga perusahaan bisa lebih fokus ke bagaimana cara pemanfaatannya bukan ke pengembangan dan implementasinya. Waah sebenarnya masih panjang cerita CRM, tapi cukup sekian dulu deh. Kapan2 dilanjutin yaaa......

Monday, February 26, 2007

3G, bagaimana nasibmu nanti?

Dear all,

I'm back setelah 2 bulan suuiiibuuuk dengan kegiatan akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007 di Inixindo, UGM dan lain-lain.
Saya menulis ini gara2 pernah ketemu dengan bbrp orang dan mendapatkan pertanyaan yang lucu ttg HP saya. Kebetulan saya menggunakan Nokia E61 yang support 3G. Bbrp orang bertanya "Itu HP apa pak?" dan saya jawab "Nokia E61, dan sudah support 3G loh". Lalu mereka bertanya lagi "Lho, kok gak ada kameranya? Ntar gimana dong 3G-nya?". Halah....3G harus pakai kamera? Yang bener aja....??? Rupanya gara2 iklan Excellcom yg selalu memperlihatkan fitur Video Call di 3G membuat banyak orang juga mengganggap 3G = Video Call. Hmmm........mau komentar gimana yaaa?????

3G sebenarnya adalah 3rd Generation dari koneksi wireless utk Mobile Phone. Setelah kita kenal 2.5G (Generasi 2.5) dengan koneksi GPRS (General Packet Radio Service), rupanya para operator ingin memberikan layanan lebih ke pelanggan dengan menyediakan jalur yang lebih cepat dalam berkomunikasi data (bukan suara saja tentunya). Sehingga mereka berlomba-lomba investasi infrastruktur baru yang mampu mengirimkan data sampai ratusan Kbps (gak jelas kecepatan real yg mereka berikan) karena naik-turun mulu.

Kembali ke laptop...... jadi apa yg bisa kita dapatkan kalau sdh ada 3G di HP dan di infratruktur? Sesuai dengan janjinya, tentunya kecepatan akses yang lebih cepat daripada GPRS atau CDMA bahkan. Konten yg bisa dikirim tentunya bisa lebih advanced dibanding yg sdh ada sebelumnya, misal video streaming (atau video call tadi), TV-on demand, atau sekedar akses Internet yg lebih cepat dll. Tapi sekedar janji loh...lagian kebanyakan masih dalam taraf ujicoba jaringan baru-nya. Jadi belum dipastikan nanti kalau sudah banyak yang pakai akan menurun atau tetap kualitasnya.

Sekarang pertanyaannya adalah seberapa mampu 3G bisa survive di layanan operator2 tadi? Berapa orang dari pembaca yang sering pakai MMS? Ada yang pernah dengar WAP? Layanan apa yang paling banyak dipakai para pengguna HP? Beberapa pertanyaan tadi akan bisa kita jadikan judgment awal apakah 3G bisa bertahan (secara bisnis bagi operator) atau tidak. Saya sendiri mungkin hanya kurang dari 10x menggunakan MMS. Kalau ada koneksi WiFi, saya akan pilih di HP saya utk download file besar, browsing atau chatting. Untuk pemakaian di notebook, saya cari dulu WiFi, kalau gak ada pakai CDMA, kalau gak ada baru GPRS. Itupun kadang dimatikan download image di browser supaya lebih murah dan cepat. Bagi saya yang berprofesi di bidang TI, belum butuh banget akses data kecepatan di HP saya. Saya tetap pakai GPRS utk cek email, kalau kepepet baru browsing. Hampir sebagian besar aktivitas masih di Notebook tadi. Sebagian besar pembaca juga pasti masih pakai HP utk telpon dan SMS, kalau perlu banget baru konek (GPRS atau CDMA) utk kebutuhan2 yg urgent. Itupun masih mikir biaya GPRS/CDMA yg akan dikeluarkan walau ada bbrp operator yang kasih flat-rate utk akses data di Internet.

Jadi kalau menurut saya, ini pendapat pribadi dan mungkin salah, 3G akan bisa survive asal konten yg diberikan jelas bermanfaat bagi semua pemilik mobile phone, harga terjangkau, kualitas yang stabil, dan makin murahnya HP yg support 3G. Sampai sekarang pun, saya kira hanya Jepang saja yang berhasil menjual jasa High-Speed Access ke pengguna HP di negaranya. Bagi negara lain mungkin 3G hanya sebagai pelengkap, supaya tidak dianggap ketinggalan jaman. Saya pribadi cukup salut juga dengan Indosat yg memberi layanan 3G hanya utk pengguna Matrix (pascabayar) dan hanya di kota2 tertentu. Berbeda dengan Excellcom dan Telkomsel yg utk semua pelanggan, Indosat memprediksikan kalau pelanggan yg pakai 3G adalah di segmen tertentu saja dan akan bisa bertahan lama. Bukan asal coba2 layanan gratis di awal, lalu gak lagi begitu di-charge yg cukup mahal. Semoga prediksi saya salah ttg 3G, sehingga bisa laris...hehe......:))

Wednesday, December 13, 2006

Studium Generale: EBusiness Dan Aplikasinya dalam Dunia Usaha Dan Industri

Kutipan dari News Portal, Institut Teknologi Bandung
http://www.itb.ac.id/news/1342

Program Studi Teknik Fisika ITB menggelar kuliah umum "EBusiness Dan Aplikasinya dalam Dunia Usaha Dan Industri" pada Jumat, 8 Desember 2006 di Ruang Seminar Laboratorium Teknik Fisika Lantai II. Hadir sebagai pembicara, Surahyo Sumarsono, B.Eng., M.Eng.Sc., Direktur Inixindo Yogyakarta sekaligus Consultant for System and Information Technology. Dalam kuliah umum ini, Surahyo menekankan bahwa dalam sistem informasi EBusiness, terdapat tiga komponen, yaitu: informasi proses bisnis, sumber daya manusia, dan teknologi informasi. Sumber daya manusia merupakan faktor dengan dukungan terkecil tetapi dengan tingkat kesulitan manajemen tertinggi. Kendati demikian, dengan pentingnya kompetensi, dibutuhkan sumber daya manusia yang menguasai suatu bidang secara spesifik tetapi juga mengetahui keadaan general, terutama menyangkut visi dan misi perusahaan, serta keunggulan produk.

Tahun 1990–2000 merupakan saat bangkitnya EBusiness dan ECommerce berbasis internet. Perusahaan–perusahaan besar mulai beralih mengadopsi sistem informasi yang dapat mencakup beberapa sistem di dalamnya (customer relationship management, enterprise resource planning, supply chain management, human resource management system, dll). Perubahan diperlukan untuk tercapainya efektivitas jaringan sistem informasi, proyek unggulan, serta tantangan yang kompetitif.

Dijelaskan oleh Dr. Joko Sarwono dari Kelompok Keahlian Teknik Fisika, kuliah umum ini merupakan program rutin Program Studi Teknik Fisika ITB setiap hari Jumat yag diadakan untuk mahasiswa S2, tetapi juga dibuka untuk mahasiswa S1 dan S3 yang berminat hadir. "Pada hari Jumat kami mengadakan kuliah yang temanya umum, dari A hingga Z" tutur beliau. Bagi yang berminat untuk mengikuti kuliah–kuliah umum selanjutnya dapat menghubungi jsarwono@tf.itb.ac.id. Untuk materi kuliah hari ini (8/12) untuk lebih jelas dapat menghubungi surahyo@yahoo.com atau mengunjungi situs http://surahyo.blogspot.com

Saturday, December 9, 2006

e-Government di Indonesia, bagaimana perkembangannya?

Dear all,

Hari Rabu tgl 7 Des 2006 lalu, saya diajak majalah e-Indonesia beserta dg 2 pembicara lain mengisi seminar e-Government di Kabupaten Pacitan. Pertama-tama saya bertanya kenapa di Pacitan, kemudian baru menyadari bahwa kabupaten itu merupakan tempat kelahiran Presiden SBY. Perjalanan ditempuh kira-kira 3 jam dari Jogja melalui Wonosari, melewati perbukitan kapur. Terlihat bahwa kabupaten ini agak tertinggal dalam hal penetrasi Telekomunikasi dan Teknologi Informasi.

Sebelum berangkat, saya mencoba mengakses website Pacitan di www.pacitan.go.id, dan cukup lumayan juga informasi yg tertuang disitu. Tapi pertanyaan kita, apakah e-Government itu sama dengan website? Ternyata masih banyak orang yg beranggapan seperti itu. Memang betul, salah satu indikasinya adalah adanya layanan informasi ttg pemerintahan untuk masyarakat yg bisa diakses melalui website. Ini merupakan tahap ke 1 dari Evolusi e-Government. Nantinya diikuti dengan tahap kedua yaitu Interaksi Terbatas yg berupa Intranet terkoneksi antar bagian untuk email, akses ke database online & form yang bisa didownload. Tahap ketiga adalah Transaksi yg berisi Layanan berbasis elektronik secara otomatis. Aplikasi meliputi penerbitan sertifikat dan pembaharuan lisensi. Dan yang terakhir adalah Transformasi yg berwujud Integrasi antar pemerintahan. Semua tahap dari transaksi meliputi pembayaran secara elektronik. Aplikasi meliputi portal pemerintah. Model baru dalam pemberian pelayanan dengan kerjasama dengan pihak swasta.

Jadi secara umum arti dari e-Government adalah penyelenggaraan pemerintahan berbasis (menggunakan) eletronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. Penekanan disini adalah kepada “GOVERNMENT” bukan pada “e” (atau Teknologi Informasi)-nya. Jadi bukan ditentukan seberapa canggih teknologi yg dipakai di webserver-nya, bukan karena komputer2 di kantor menggunakan teknologi terbaru dan tercepat, jaringan yg hebat, atau dengan kata lain menggunakan investasi yg mahal sekali utk membuat infrastuktur e-Gov tsb.

Keberhasilan lebih ditentukan oleh bagaimana agar kita sebagai masyarakat bisa dilayani dengan baik. Misal dulu butuh 1 minggu utk membuat KTP, dg adanya e-Gov kita bisa membuat KTP baru dlm 2 jam. Jika ingin membuka usaha baru, tanpa perlu repot cukup mengakses suatu sistem, maka semua urusan perijinan dilakukan dengan mudah dan murah. Bupati/walikota lebih mudah memahami kinerja organisasinya sehingga kalau ada masalah dengan mudah bisa diselesaikan. Potensi daerah bisa lebih dioptimalkan dan berbagai hal lain.

Kendala terbesar dalam penerapan e-Government adalah pada komponen People (orang2 yg terlibat) dan Prosedur Kerja. Komponen satunya yaitu Teknologi Informasi lebih mudah dikelola. Pemahaman yg baik dari level executive sampai pelaksana akan sangat membantu keberhasilan e-Gov. Level executive paham dengan baik mengapa mereka memerlukan e-Gov dan akan mendukung dengan sepenuh hati. Pelaksana akan berusaha melaksanakan pekerjaannya dengan sungguh2 agar e-Gov yg mereka miliki bisa dimanfaatkan dengan optimal. Untuk itu diperlukan berbagai usaha utk membantu hal-hal tsb.

Kegiatan edukasi dan sosialisasi adalah langkah awal yg harus dilakukan agar semua level bisa mempunyai pemahaman yang sama. Mereka harus sadar bahwa penerapan e-Gov tidak hanya adanya Sistem Informasi yang baru tapi juga akan mengadopsi cara kerja baru. Transparansi bakal didapat sehingga beberapa orang akan kuatir kecurangan mereka selama ini akan diketahui dg mudah. Kedisiplinan dalam menggunakan sistem harus terjaga, agar pengguna di bidang/instansi yang lain bisa memanfaatkan informasi tsb. Kegiatan ini harus dilaksanakan secara kontinyu shg didapat hasil yg maksimal. Selain itu, pembuatan Master Plan di awal pengembangan adalah hal yg mutlak. Sehingga tidak asal pilih rekanan/vendor dan kemudian tinggal mengikuti apa yg mereka buat. Pemilik sistem harus tahu dengan baik apa keinginannya. Banyak kasus yg terjadi karena Pemerintah hanya asal buat e-Gov utk mengikuti trend saja, dan didikte oleh rekanan/vendor. Sehingga biayanya sudah sangat mahal, hasil tidak didapatkan secara optimal.

Yang jelas, masih banyak hal yg harus kami lakukan utk melakukan sosialisasi pemahaman e-Gov. Utk itu kami masih akan banyak melakukan roadshow keliling berbagai Daerah Tk 2 bersama dengan tim diatas. Cerita ini masih berlanjut di lain kesempatan. See you later.......

Wednesday, November 29, 2006

Decision Support System (DSS) & buku “Blink”, apa hubungannya?

Dear all,

Saya beberapa waktu lalu dipinjamin buku dari mahasiswa dengan judul “Blink: Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir” karangan Malcolm Gladwell. Sebuah buku yang menarik dan kontroversial, krn menceritakan ttg dua detik pertama yang sangat menentukan ketika kita melihat sesuatu dan berikutnya mengambil suatu keputusan. Saat itu, 'komputer internal' kita akan mencari berbagai database, diolah dan diproses yang menghasilkan keputusan tertentu. Oleh Malcolm hal ini disebut “kemampuan berpikir tanpa berpikir” dimana keputusan sekejap bisa didapat dari informasi yg sedikit namun akurat melalui snap judgment dan thin slicing.

Jika dibandingkan dengan Sistem Informasi (SI) yang disebut Decision Support System (DSS), sepertinya hal yang mirip. Tapi saya coba utk membahas lebih lanjut kedua hal tadi dan dibandingkan. Blink bagi saya adalah hal yg menarik dan mungkin pernah saya pakai beberapa kali, Kadang kita bisa mempercayai bahwa hal pertama yang muncul di kepala kita jika menghadapi sesuatu, merupakan keputusan yang terbaik yg sdh diolah otak kita. Tapi kadang kita menyangsikan juga. Yang pasti, otak bisa memproses data2 yang pernah disimpan selama ini sesuai aturan/rule yang pernah kita pelajari. Atau kemungkinan2 lain adalah data benar aturan salah, data salah aturan benar, dan data dan aturan salah semua.

Jadi Blink bisa berfungsi baik, jika masalah yg kita hadapi adalah hal2 yg sudah kita pahami dengan baik selama bertahun2. Seperti contoh di buku, seorang pakar sejarah bisa langsung mengenali patung kuno yg ternyata palsu dengan sekali melihatnya, seorang ahli kuliner langsung bisa mengetahui makanan berasal dari rumah makan mana hanya dengan mencicipinya dll. Jadi dengan akumulasi DATA, kemudian diolah menjadi INFORMASI, lalu mengendap menjadi KNOWLEDGE dan akhirnya diintisarikan menjadi WISDOM, keputusan yang tepat bisa diambil dengan waktu singkat. Jadi tidak tepat juga istilah Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir tadi. Proses berpikir tadi berlangsung sangat cepat dan efisien sehingga outputnya pun dengan cepat sekali bisa didapat. Sangat tidak mungkin seorang yang baru belajar suatu hal, bahkan hanya membaca suatu buku lalu bisa membuat keputusan berbasis isi dari buku yang baru dibaca tadi.

Sekedar analogi, bisa dibayangkan mengapa Michael Dell bisa memimpin Dell dengan baik, Bill Gates tahu betul kebutuhan pasar, Jack Welch sangat piawai memimpin GE dan pemimpin2 di negara tertentu yg sangat bijak memimpin negaranya. Mereka sudah bertahun-tahun mengerjakan dan mendalami bidang mereka sampai bener2 paham apa yang harus dilakukan. Jadi mungkinkah orang yang gak tau apa2 diminta memimpin suatu perusahaan, BUMN, Kementrian, DPR/D dll? Kapan mereka sempat mengakumulasi semua Data, lalu diolah jadi Informasi, menjadi Knowledge apalagi boro2 sampai jadi Wisdom? Hehehe cuma intermezzo aja sih....... Semoga gak spt itu kenyataannya...:D

DSS yang diaplikasikan pd suatu perusahaan tidak akan berfungsi dengan baik jika database yang disimpan selama ini tidak akurat, sehingga pada waktu disimpan di Datawarehouse (gudangnya seluruh database dan hanya digunakan utk analisa) tdk memberikan suatu knowledge terhadap suatu hal tertentu. Pada waktu terjadi proses analisa, jika tidak menggunakan aturan yang sesuai pun, bakalan memberikan Support yang tidak tepat, sehingga pengambilan keputusan menjadi tdk tepat.

Untuk mencapai hal itu, Sistem Informasi harus dibangun dari lapisan paling bawah dulu yaitu Transaction Processing System (TPS) yang bisa menghasilkan database Operasional yang akurat. Jika hal ini belum dicapai, tidak mungkin dikembangkan DSS di atasnya. Dari berbagai database Operasional yang ada dikumpulkan dalam Datawarehouse, diolah dan dianalisa dengan aturan2 tertentu, outputnya bisa kita gunakan utk pengambilan keputusan. Sistem ini bisa juga disebut Business Intelligence, Management Information System, Executive Information System dll.

Jadi kembali ke Blink, bersyukurlah kita dikarunia Sistem Informasi yang sangat canggih dan kompleks dan semoga tidak bisa ditiru oleh komputer. Otak manusia bisa membuat suatu logic yg sangat rumit dan membaca informasi yg sdh tersimpan bertahun-tahun lamanya, lalu mengolahnya dg logic tadi. Walau dibilang processor komputer bisa menghitung sangat cepat, dan memory bisa menyimpan data sampai ukuran terabyte, tetap tidak akan bisa mengalahkan otak manusia ciptaan Allah SWT. Semakin belajar ttg Teknologi Informasi, semakin tahu bahwa manusia merupakan sistem yang paling sempurna.

Monday, November 27, 2006

Software Open Source dan penggunaannya

Dear all,

Sebagian dari anda pasti sudah pernah dengar apa itu software Open Source, mungkin lebih familiar lagi dengan sistem operasi Linux, walaupun masih banyak software2 lain yang bisa kita pakai di atas MS Windows. Yang pertama kali terlintas di kepala kita pasti: “Wah kayaknya bakalan susah tuh pakai software seperti itu”. Hal ini bisa terjadi karena kita terlalu familiar dengan software2 yang biasa dipakai di atas MS Windows.

Kembali ke istilah software Open Source, sebenarnya apa sih ini? Secara umum, arti dari Open Source adalah source-code yang terbuka. Source-code atau kode-kode pemrograman dari suatu software bisa kita lihat isinya. Artinya, kita bisa dengan mudah mempelajari cara kerjanya, meningkatkan kemampuannya, menterjemahkan ke bahasa lokal dll selama kita memberitahukan ke pembuat sebelumnya dan mencantumkan nama2 pembuat sebelumnya di software teresebut. Tapi, kalaupun kita tidak ingin tahu isi source-code tsb dan tinggal menggunakannya, juga gak papa dong.

Kemudian, karena source-code terbuka, kita bisa mendapatkannya dengan mudah. Cukup mendownload dari suatu situs, atau meng-copy dari rekan kita pun bukan menjadi suatu masalah. Dengan ada adanya kesepakatan bahwa source-code itu harus selalu bisa dibaca siapapun, tidak ada pelanggaran terhadap hak cipta. Hal ini mengacu Open Source Initiative (http://www.opensource.org) dan dilindungi oleh lisensi dari GNU General Public License (http://www.gnu.org/copyleft/gpl.html).

Setelah banyak istilah teknis di atas, lalu kenapa kita perlu menggunakan software2 Open Source? Hal yang paling mendasar adalah masalah pembajakan software. Kebanyakan dari kita pasti menggunakan MS Windows, MS Office, dan beberapa software lain seperti Photoshop, Corel Draw, dan masih banyak yang lainnya. Selama kita membeli secara resmi software2 tsb, tidak menjadi masalah. Tapi berapa harga dari software2 tsb? MS Windows XP Home Edition sekitar Rp. 1.5 juta, MS Windows XP Professional Edition sekitar Rp. 2.5 juta, MS Office sekitar 3 juta lebih dan yang lain pun pasti akan mahal juga. Walaupun dengan modal Rp. 20.000 kita bisa membeli versi bajakannya di toko2 komputer…..hehe…

Jadi kalau memungkinkan, tidak ada salahnya kita mengurangi dosa dengan cara menggunakan software Open Source yang bisa bekerja di atas MS Windows misal OpenOffice. Software ini bisa didownload dengan mudah di http://www.openoffice.org, bahkan versi terbaru 2.0.4 sudah keluar. Jika tidak mungkin download krn bandwith kecil, bisa dengan mudah meng-copy dari rekan2 tanpa takut dianggap membajak software. OpenOffice bisa menggantikan fungsi MS Office secara umum, sehingga kalaupun membajak cukup di software system operasi saja yaitu MS Windows-nya (walau tetep dosa sih… hehe). Kemudian untuk mengedit gambar bisa menggunakan Gimp di http://www.gimp.org, browsing bisa pakai Mozilla Firefox dan email bisa pakai Mozilla Thunderbird di http://www.mozilla.com/en-US/products/.

Yang jelas, selain menghindari pembajakan software, keuntungan lain adalah kehandalan dari software2 Open Source. Karena dibuat oleh komunitas, jika ada masalah dengan cepat akan diatasi. Bahkan hampir dikatakan tidak ada virus, kalaupun ada pasti dengan cepat akan diketahui bagian mana yang diserang dan oleh komunitas langsung diperbaiki karena source-code-nya terbuka buat siapa saja. Sedangkan kalau kita menggunakan commercial software, dibutuhkan waktu cukup lama utk hal2 tsb krn source-code hanya diketahui oleh perusahaan itu saja.

Sebagai penutup sementara, karena sebenarnya masih banyak lagi yang musti dijelaskan di Open Source, gunakan software ini sebagai alternative. Jika masih nyaman dengan software bajakan, silahkan diteruskan. Jika ingin mulai mencoba, bisa menggunakan software Open Souce di atas MS Windows (OpenOffice, Gimp, Firefox dll). Jika mau total pakai Open Souce, gunakan sistem operasi Linux, yang varian-nya sangat banyak. Mulai dari Fedora Core, SuSe, Mandriva, Ubuntu, Knoppix dan lain-lain. Secara prinsip semua sama, hanya beda kemasan dan aksesorisnya saja. Anda akan menikmati software yang handal, cepat, bebas virus dan tidak membajak. Oke deh, kapan2 saya lanjutin lagi.

Wednesday, November 22, 2006

VoIP, apaan sih?


Dear all,

Pasti pernah dengar kan: “yuk telponnya pake VoIP aja, biar murah”. Emang kenapa bisa murah? Apa bedanya ama telpon biasa? Kalo gitu, kenapa gak semua telpon di-VoIP-in aja?

Hmmm asik juga ya kalo nelpon pake VoIP. Tapi apa sih VoIP itu? Kalau gak salah (berarti bener) merupakan singkatan dari Voice over IP. Waduh apa ini? Gampangnya sih.... Suara di atas IP. Masih bingung? Sama dong....:D Oke deh, jadi yang dimaksud dengan VoIP adalah cara membawa jalur suara (voice) di atas jalur data yang menggunakan protocol TCP/IP. Walah panjang juga ya.......

Iya betul, dengan merubah suara kita menjadi paket data, kita bisa mengirim suara tsb bersama-sama dengan lalulintas pengiriman data misal pengiriman file pakai FTP, kirim email, browsing ke webserver, akses ke database server kantor pusat dll. Dengan kata lain, jalur suara standar, yang sering disebut PSTN (Public Switch Telephone Network) atau itu tuh jalur telpon lah gampangnya, udah gak diperlukan lagi. Kan jadi enak tuh, bisa dikelola lebih mudah, dan yang penting lagi kalau komunikasi suara tadi dilakukan antar kota, atau antar pulau, atau antar negara (yg gak ada antar dunia yaaaa... soalnya butuh paranormal tuh.. hehe), bakal lebih murah. Kenapa lebih murah? Nah ini perlu penjelasan lagi.

Koneksi jalur data itu biasanya disewa perusahaan untuk menghubungkan antar kantor cabang. Jalur tsb disewa permanent dengan biaya bulanan. Pernah dengar Leased-line, Frame-relay dll? Jadi dipakai atau tidak, biayanya flat/rata misal jalur 64 kbps dengan harga Rp. 4 jt/bulan. Nah daripada hanya dipakai kadang2, kenapa tidak manfaatkan utk membawa jalur suara kita? Untuk itu, dibutuhkan suatu alat yg namanya VoIP Gateway yg berfungsi merubah suara analog menjadi data digital. Kemudian oleh router, data suara digital tadi akan dikirim bersama-sama dg data lain, ditujukan ke kantor cabang di kota/negara lain tanpa harus melewati PSTN tadi. Ini yang untuk kebutuhan internal suatu perusahaan ya, bukan buat telpon komersial yg dipakai siapa saja.

Sekarang bagaimana utk telpon VoIP komersial? Di Indonesia, ada bbrp operator yang mendapat lisensi pemerintah utk jual jasa VoIP utk umum. dan mereka menggunakan jalur data TCP/IP (bukan PSTN) utk melewatkan suara kita. Makanya biaya bisa ditekan lebih rendah. Keuntungannya adalah mereka mempunyai Gateway yg menghubungkan jalur data tadi ke jalur suara PSTN lokal. Makanya kita bisa menelpon nomer lokal teman/saudara kita di kota lain.

Sekarang gimana kalau yg gratis? Bisa aja sih, cuma kita harus pakai PC/Notebook yg terkoneksi ke Internet. Dengan software spt Yahoo Messenger, Skype dll kita bisa berkomunikasi suara lwt jalur data. Untungnya kalau Skype bisa telpon ke nomer PSTN jg krn ada Gateway-nya, cuma tetep aja bayar kecuali pas promo. Kalau gak salah YM jg bisa sekarang, cuma belum pernah coba. Solusi lain ya cari yg bisa pakai Gateway gratis misal VoIP Merdeka-nya pak Onno dll. Udah cukup jelas kan apa itu VoIP dan knp murah? Semoga deeh.....

Tuesday, November 21, 2006

Hacker dan Security System


Dear all,

Kalau melihat judul di atas pasti akan teringat dengan istilah Hacker, Cracker atau bahkan Carder. Banyak film, novel atau artikel di majalah/koran yang mengulas hal tsb, sebenarnya siapakah mereka? Kenapa sekarang kita perlu concern thd mereka? Kebetulan bbrp minggu lalu saya diminta mengisi sebuah seminar ttg Hacking & Networking on Linux di Jogja Expo Center, trus jadi pengen nulis hal ini.

Kata hacking sendiri sering menimbulkan arti yang berbeda-beda, walau aslinya adalah kegiatan untuk mengetahui kelemahan suatu sistem bahkan bagaimana meningkatkan kemampuan suatu sistem baik itu software atau hardware. Jadi butuh suatu keahlian khusus, misal kemampuan programming yang baik atau pemahaman ttg hardware elektronik yang hebat. Sedangkan di film maupun di novel digambarkan hanya sebagai aktivitas untuk bisa menerobos masuk ke suatu sistem untuk mengambil suatu keuntungan. Mungkin penggambaran yang paling tepat untuk hacking adalah di film The Matrix Reloaded, dimana Trinity menggunakan tool Nmap (Network Mapper). Selain itu, banyak film yang sekedar bermain dengan animasi utk menggambarkan hacker. Juga banyak orang yg sekedar menggunakan tool bikinan orang lain utk menembus suatu sistem, tanpa usaha yang keras, yang sering kita kategorikan mereka hanya sbg “Script Kiddies” atau anak-anak yang bermain dengan Script orang lain. Sebenarnya untuk menjadi hacker yang baik, banyak usaha yang hrs dilakukan baik memahami TCP/IP, belajar programming dll.

Lalu mengapa sekarang kita perlu melindungi sistem informasi di perusahaan/organisasi kita? Dulu pada saat sistem informasi masih bersifat Closed Network dan teknologi yang dipakai sifatnya propietary (spesifik pd perusahaan tertentu), ancaman keamanan tidak begitu dikuatirkan. Begitu kita menggunakan protokol standar TCP/IP (yg notebene sudah uzur dan sederhana), jaringan terhubung ke Internet, saat itulah sistem kita menjadi sasaran empuk bagi orang2 jail di luar sana. Tapi kondisi mengharuskan spt itu, misal bank hrs membuka layanan Internet Banking, perhotelan atau travel agent menyediakan Online Reservation, perusahaan harus menyediakan e-Commerce site untuk kemudahan customer dll.

Untuk itu, mau tidak mau perusahaan harus menyiapkan Sistem Keamanan (Security System) yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satu contoh adalah Firewall, yg bekerja spt Satpam. Setiap ada tamu masuk ke suatu kantor, satpam akan menanyakan tujuannya, meminta ID Card, kemudian mencatat kehadiran kita tsb. Firewall akan memeriksa setiap akses yang masuk dan membandingkan dengan policy, apakah akses itu diijinkan atau tidak. Tapi hal itu tidak cukup, maka di dalam perusahaan pasti dipasang CCTV Camera utk mengawasi aktivitas di dalam. Sehingga walau tamu diijinkan masuk, belum tentu dia tidak berbuat yang aneh2, misal memasang bom di dalam, mencuri sesuatu utk dibawa keluar dll. Biasanya selain Firewal, kita akan memasang IDS (Intrusion Detection System) yang akan mengawasi lalulintas data, jika terjadi anomali/keanehan maka IDS akan memberikan peringatan bahkan bisa menyuruh Firewall utk menutup koneksi pada akses tsb.

Selain itu, masih dibutuhkan lagi Sistem Otentikasi yang memastikan siapa yg akan akses, boleh apa saja di dalam, dan pencatatan aktivitas2 mereka. Utk mengamankan jalur agar tidak disadap, dibutuhkan teknologi penyandian (encryption) sehingga data tidak mudah terbaca oleh siapapun. Dan juga dibutuhkan sistem terpusat utk mengawasi/mengkonfigurasi semua sistem keamanan, spt ruang Satpam yg dilengkapi banyak monitor dan tombol2 utk berbagai kegiatan.

Yang lebih penting lagi adalah mengajarkan ke setiap pengguna sistem di perusahaan kita utk selalu berhati-hati jika mengakses suatu layanan keluar. Tipe serangan yg disebut Social Engineering Attack adalah suatu serangan yang memanfaatkan kelemahan user. Misal sebuah email dengan alamat pengirim manager-it@apa.com meminta semua user utk mereply dg menyertakan username dan password, dengan alasan akan dilaksanakan upgrade ke sistem baru. Atau email yang meminta kita klik ke suatu website utk mendownload demo antivirus terbaru, pdhl isinya adalah virus atau worm.

Jadi dalam mengamankan suatu sistem, banyak hal yg harus diperhatikan. Tidak sekedar membeli software atau device Security lalu sekedar dipasang. Wah, jadi repot juga ya kalau punya sistem yang terkoneksi keluar. Makanya ada suatu kalimat sakti di dunia Security yaitu “The most secure system is unconnected system”....hehe atau bahkan kalau mau aman sekali ya ikuti semboyan-nya Andrew S. Grove pendiri Intel yaitu “Only The Paranoid Survive”, walau ini sebenarnya lebih ke strategi bisnis. Udahan dulu deh, ketemu lagi di cerita lain.

Friday, November 17, 2006

Traffic Management, apa dan mengapa dibutuhkan


Dear all,

Sering sekali kita dengar keluhan kenapa koneksi Internet kita lambat sekali, walaupun sudah sewa bandwith yang besar dari Internet Service Provider (ISP). Wah rugi dong, sudah bayar jutaan, tapi setiap kali konek ke Internet baik untuk browsing, download file, kirim email maupun chatting terasa sangat menjengkelkan. Apa salah kita sehingga bisa begitu?

Hal paling mudah yang kita lakukan adalah menyalahkan kepada ISP. Hal itu bisa jadi benar, tapi bisa juga bukan penyebab utama. Mengapa begitu? Saya akan ambil suatu contoh sederhana. Pernahkah kita merasa jengkel, ketika lewat jalan besar bahkan jalan Tol tapi perjalanan kita tidak cepat? Apa penyebab hal itu? Apakah ada bus kota yang seenaknya berhenti di sembarang tempat? Apakah ada sepeda motor yang banyak sekali dan tidak teratur mengambil jalur? Apakah ada rombongan pejabat yang menggunakan kekuasaanya untuk menyuruh semua orang harus meminggirkan kendaraan?

Pasti terpikir bagi anda, seandainya ada polisi yang mengatur lalu lintas, sehingga semua jalur terpakai dengan rapi. Seandainya semua tertib, pasti tidak ada saling serobot sehingga menyebabkan jalanan macet. Sekarang kita kembali ke lalu lintas di jaringan komputer kita. Pernahkan anda sadar bahwa banyak sekali tipe aplikasi/data yang lewat di jaringan kita? Apakah anda tahu, bahwa selain aplikasi web browser yang sedang aktif, ada juga yang sedang download lagu MP3 di jaringan. Tahukah selain file laporan keuangan yang lewat di jaringan, saat itu juga ada worm/virus yang lagi aktif broadcast kesana kemari di jaringan? Hal-hal seperti inilah yang sering dilupakan oleh para pengelola jaringan di suatu institusi/perusahaan.

Konsep Traffic Management adalah bagaimana mengatur semua peralatan jaringan (switch, router, firewall dll) bisa mengenali lalulintas yang sedang lewat sehingga bisa dibuat aturan tersendiri. Umpamakan saat tertentu dimana dosen/dekan pd suatu fakultas sedang mendownload artikel/paper/journal dari suatu server, kemudian ada mahasiswa sedang mendownload film/musik, saat itu juga peralatan jaringan bisa meng-alokasi-kan bandwith secara otomatis pada akses para dosen/dekan tadi sehingga tidak terganggu file musik/film. Bahkan utk kondisi yang khusus, katakan dimana suatu akses ke server database keuangan sedang aktif, saat itu juga semua lalulintas yang tidak perlu bisa dihentikan sementara.

Pengalaman saya di lapangan menunjukkan banyak para pengelola jaringan hanya menfokuskan diri pada topologi jaringan secara fisik, tapi tidak menyentuh konfigurasi pada peralatan jaringan padahal alat2 tsb mempunyai fungsi/fitur spt itu. Ironisnya lagi, perusahaan/institusi sudah membeli peralatan dengan harga mahal, misal merk Cisco Systems, tapi hanya digunakan sbg tempat untuk mengkoneksikan semua kabel secara fisik saja. Dengan begitu, percuma saja langganan sampai 1 MBps ke ISP, kalau yang lewat hanya file MP3 atau film melulu. Belum lagi ketika pengguna tidak peduli terhadap keamanan sistem, dimana dengan mudah worm/virus lewat di jaringan, bakal semua akses penting menjadi terhambat.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Lakukan analisa terhadap lalulintas yang lewat sehingga kita bisa membuat profile dari kebiasan akses di jaringan. Kemudian setelah itu, tinggal kita sesuaikan dengan kebijakan perusahaan thd pemakaian jaringan, sehingga pengelola bisa melakukan konfigurasi yang sesuai ke semua peralatan jaringan. Dijamin, tanpa harus menaikkan bandwith ke ISP, akses di jaringan akan lebih cepat, nyaman dan aman.